RIAU ONLINE, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut perkembangan pembayaran digital memiliki peran penting dalam mendukung transformasi perdagangan nasional.
Menko Airlangga mengatakan, hal ini selaras dengan data Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan pengguna Standar Nasional Indonesia untuk Quick Response Code (QRIS) hingga Juni 2026 telah mencapai 65,77 juta orang dan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dan konsumen secara lebih inklusif dan mulus (seamless).
“Kita melihat sistem pembayaran QRIS itu sudah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen adalah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM),” kata Airlangga, dikutip dari ANTARA, Rabu, 26 Agustus 2026.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan perkembangan digitalisasi tersebut pun menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun ekosistem perdagangan yang semakin efisien dan inklusif.
“Tentu kita mendorong perdagangan yang lebih modern, komprehensif, struktural, dan adaptif,” ujar dia.
Selain itu, ia mengatakan bahwa penguatan perdagangan domestik juga sejalan dengan peran konsumsi sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Menko Airlangga menyampaikan, pada triwulan II tahun 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,06 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan berkontribusi 53,32 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 berada di level 116,8, tetap di atas ambang optimistis 100.
Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan bahwa penguatan sektor perdagangan perlu melihat perubahan pola konsumsi dan perkembangan ekosistem usaha secara lebih menyeluruh.
“Transformasi perdagangan tidak hanya berbicara mengenai peningkatan aktivitas belanja, tetapi juga bagaimana menciptakan ekosistem yang menghubungkan konsumen, pelaku usaha, produsen dalam negeri, hingga sistem pembayaran dan distribusi,” kata Haryo.
“Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, potensi wisata belanja dan konsumsi domestik dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya menambahkan. (ANTARA)

