RIAU ONLINE, PEKANBARU – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau. Irfan Ramadani berhasil meraih Gold Medal pada ajang Lomba Esai Tingkat Nasional yang digelar di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, pada 11–12 Juli 2026.
Penghargaan tertinggi tersebut diraih berkat karya ilmiah yang mengangkat persoalan krisis regenerasi Silat Pangean, salah satu warisan budaya khas Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, yang kini menghadapi tantangan besar dalam proses pewarisannya kepada generasi muda.
Kompetisi yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia itu menjadi wadah lahirnya gagasan inovatif untuk menjawab berbagai persoalan bangsa. Dewan juri menilai setiap karya berdasarkan orisinalitas ide, kedalaman analisis, relevansi isu, kelayakan implementasi, serta kontribusi terhadap penyelesaian masalah.
Melalui esainya, Irfan dinilai mampu menyajikan analisis yang komprehensif mengenai kondisi pelestarian budaya lokal sekaligus menawarkan solusi yang relevan, sehingga berhasil meraih Gold Medal.
Dalam karya ilmiahnya, Irfan menjelaskan Silat Pangean bukan sekadar seni bela diri tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Kuantan Singingi yang sarat akan nilai-nilai kehidupan.
Menurutnya, seni bela diri tersebut mengajarkan disiplin, keberanian, tanggung jawab, penghormatan kepada guru, serta semangat persaudaraan yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari jati diri masyarakat Melayu.
Namun, derasnya arus globalisasi, perubahan gaya hidup, minimnya ruang pembelajaran budaya, hingga menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisional menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan Silat Pangean.
"Jika tidak ada langkah yang terencana dan berkelanjutan, proses regenerasi akan semakin lambat dan dikhawatirkan mengancam kelestarian warisan budaya ini," tulis Irfan dalam esainya.
Irfan menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial atau pertunjukan semata. Menurutnya, dibutuhkan inovasi yang mampu menyesuaikan proses pelestarian dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai autentik yang terkandung di dalamnya.
Ia menegaskan budaya harus mampu beradaptasi agar tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi muda.
Lebih jauh, Irfan berharap gagasan yang ia tuangkan dalam karya ilmiah tersebut tidak berhenti sebagai prestasi akademik semata, melainkan menjadi titik awal terbangunnya kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, akademisi, komunitas budaya, guru silat, tokoh adat, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan Silat Pangean.
Menurutnya, pemerintah memiliki peran strategis melalui kebijakan pelestarian budaya, sementara lembaga pendidikan dapat menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini.
Di sisi lain, komunitas budaya dan tokoh adat bertanggung jawab menjaga keaslian nilai-nilai yang diwariskan, sedangkan generasi muda menjadi aktor utama dalam melanjutkan estafet pelestarian budaya.
Irfan mengaku bersyukur atas penghargaan yang diraihnya. Baginya, Gold Medal bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga motivasi untuk terus menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas capaian ini. Gold Medal ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Irfan.
“Saya berharap gagasan yang saya angkat tidak berhenti sebagai karya ilmiah dalam sebuah kompetisi, melainkan dapat menjadi perhatian berbagai pihak untuk bersama-sama memperkuat upaya pelestarian Silat Pangean sebagai warisan budaya Kabupaten Kuantan Singingi," imbuhnya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut berprestasi secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Prestasi Irfan sekaligus memperkuat komitmen UIN Sultan Syarif Kasim Riau dalam mendorong lahirnya generasi akademisi yang unggul, peduli terhadap kearifan lokal, serta mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah melalui riset dan inovasi.
Lebih dari sekadar penghargaan, capaian ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Gagasan yang lahir dari dunia akademik akan memberikan dampak yang lebih luas apabila didukung kolaborasi seluruh elemen masyarakat, sehingga warisan budaya seperti Silat Pangean tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

