IKA FISIP UNRI Bedah Tantangan Rektor Masa Depan Lewat Diskusi Quo Vadis

IKA-FISIP-UNRI-Bedah-Tantangan-Rektor-Masa-Depan-Lewat-Diskusi-Quo-Vadis.jpg
Empat Calon Rektor Bergelar Profesor Adu Gagasan Bawa Unri Lebih Maju di Warung Kopi Rimba, Kamis, 11 Juni 2026. (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Alumni, akademisi, mahasiswa, hingga para bakal calon rektor Universitas Riau menggelar diskusi bertajuk "Quo Vadis UNRI: Tantangan Rektor Universitas Riau" di Warung Kopi Rimba, Kamis, 11 Juni 2026.

Kegiatan yang digagas Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FISIP UNRI tersebut bukan sekadar diskusi biasa. Menjelang pemilihan Rektor Universitas Riau periode 2026–2030, forum ini menjadi wadah bertemunya berbagai perspektif untuk membicarakan arah dan masa depan kampus terbesar di Provinsi Riau.

Empat bakal calon rektor turut hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Prof. Dr. Iwantono, M.Phil, Prof. Dr. Elfizar, S.Si., M.Kom, Prof. Dr. Nofrizal, S.Pi., M.Si, dan Prof. Ahmad Fadli, S.T., M.T., Ph.D. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri karena secara langsung mendengarkan berbagai pandangan, kritik, dan harapan yang disampaikan peserta diskusi.

Ketua Panitia, Zainuddin, mengatakan konsep diskusi sengaja dirancang berbeda dari forum akademik pada umumnya. Tidak ada sekat formal yang kaku. Semua peserta duduk bersama dalam suasana santai agar gagasan dapat mengalir lebih bebas dan terbuka.

"Kami ingin menciptakan ruang dialog yang egaliter. Dengan suasana yang lebih santai, berbagai ide dan pemikiran tentang masa depan Universitas Riau bisa muncul secara lebih jernih dan konstruktif," ujarnya.

Diskusi menghadirkan Prof. Dr. Ashaluddin Jalil, M.S sebagai keynote speaker dan dipandu oleh Dr. Rendi Prayuda, M.Si sebagai moderator. Sejumlah tokoh turut memberikan pandangan, di antaranya Prof. Dr. Ali Yusri, M.S, Ketua IKA FISIP UNRI Rahmad Gusra, serta Presiden BEM UNRI Muhammad Azhari.

Berbagai isu strategis menjadi pembahasan, mulai dari tata kelola universitas, peningkatan kualitas akademik, penguatan riset dan inovasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga tantangan Universitas Riau dalam menghadapi kompetisi pendidikan tinggi di era global.


Menurut Zainuddin, alumni memiliki tanggung jawab moral untuk terus berkontribusi terhadap perkembangan almamater. Karena itu, pemilihan rektor tidak boleh hanya dipandang sebagai agenda internal kampus, melainkan momentum menentukan arah pembangunan Universitas Riau ke depan.

"Alumni tidak boleh hanya menjadi penonton. Kami harus ikut memberikan kontribusi pemikiran. Rektor yang terpilih nantinya harus mampu membaca perubahan zaman, memahami tantangan global, sekaligus menjawab harapan sivitas akademika, alumni, dan masyarakat," katanya.

Ia berharap berbagai gagasan yang muncul dalam forum tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para calon rektor dalam menyusun visi dan program kerja mereka.

"Hasil diskusi ini diharapkan menjadi masukan yang berharga bagi para calon rektor agar mampu merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan kampus dan perkembangan zaman," tambahnya.

Sementara itu, Dekan FISIP UNRI yang diwakili Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Saiman Pakpahan, M.Si, memberikan apresiasi atas inisiatif IKA FISIP UNRI yang dinilai mampu menghadirkan ruang intelektual yang sehat menjelang proses pemilihan rektor.

Menurutnya, alumni merupakan mitra strategis kampus yang memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan institusi.

"Fakultas sangat mengapresiasi kegiatan ini. Tema yang diangkat sangat relevan dengan situasi yang sedang dihadapi Universitas Riau saat ini. Forum seperti ini penting karena menghadirkan berbagai sudut pandang untuk membangun kampus," ujarnya.

Saiman menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak diarahkan untuk mendukung calon tertentu, melainkan murni menjadi ruang pertukaran gagasan tentang masa depan Universitas Riau.

"Kami meyakini ini adalah forum intelektual yang membahas ide dan pemikiran. Bukan forum dukung-mendukung kandidat. Yang dibicarakan adalah bagaimana UNRI dapat dikelola lebih baik, lebih maju, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat," tegasnya.

Di tengah dinamika pemilihan rektor yang mulai menghangat, diskusi sederhana di sudut kampus itu justru menghadirkan pesan yang kuat: kemajuan Universitas Riau tidak hanya bergantung pada siapa yang terpilih menjadi rektor, tetapi juga pada sejauh mana seluruh elemen kampus mampu menjaga tradisi dialog, keterbukaan, dan kolaborasi dalam membangun almamater.

Di atas secangkir kopi, para alumni, mahasiswa, akademisi, dan calon pemimpin kampus berbagi harapan yang sama. Harapan tentang Universitas Riau yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga menjadi pusat lahirnya pemikiran, inovasi, dan peradaban yang memberi manfaat bagi daerah, bangsa, dan dunia. 

Kegiatan ditutup dengan pemberian piagam kepada para Narasumber. Dan Zainuddin mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak dan kehadiran peserta terutama para bakal calon Rektor UNRI.