RIAU ONLINE, PELALAWAN - Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan hijau Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan. Dari kejauhan, terdengar derap langkah berat yang teratur. Seekor gajah Sumatera berjalan perlahan, belalainya terangkat lembut, sementara telinganya mengibas pelan mengikuti irama alam.
Di atas tubuhnya, seorang mahout memberi aba-aba dengan suara tenang. Hubungan keduanya tampak lebih dari sekadar pawang dan satwa. Ada kedekatan yang terbangun dari waktu, kesabaran, dan kepercayaan.
Di tempat inilah, di Unit Konservasi Gajah (UKG) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, harapan bagi kelangsungan hidup gajah Sumatera, dirawat setiap hari. Tujuh ekor Elephas maximus sumatrensis hidup, dilatih, dan dijaga, bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk memastikan spesies yang kian terancam ini tetap memiliki masa depan.
Dari Empat Menjadi Tujuh
Asisten Lingkungan UKG Estate Ukui, Joko Prasetyo, menjelaskan unit konservasi ini bermula dari empat ekor gajah yang diserahkan pemerintah pada tahun 1994. Keempatnya diberi nama Ade, Mira, Meri, dan Ika, dan sempat ditempatkan di wilayah Langgam.
Seiring waktu, keluarga itu bertambah.
“Saat ini sudah ada tujuh ekor gajah. Carmen lahir pada 2009, lalu melahirkan anak jantan bernama April pada 2023. Semira lahir tahun 2011. Jadi totalnya sekarang tujuh ekor,” jelas Joko.
Mahout memberi makan gula merah kesukaan anak gajah bernama April. (Foto: RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)
Kelahiran April menjadi penanda penting. Di tengah maraknya konflik dan perburuan liar, lahirnya satu individu baru berarti bertambahnya satu harapan bagi populasi gajah Sumatera yang terus menyusut.
Rutinitas yang Menyelamatkan
Di UKG Estate Ukui, perawatan dilakukan secara rutin dan terstruktur. Setiap hari, gajah dimandikan, diberi pakan sekitar 20 persen dari bobot tubuhnya, serta menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.
Menurut Angga Devila, Asisten Kepala (Askep) Forest Protection, kegiatan di UKG tidak hanya sebatas perawatan dasar.
“Kegiatan gajah di UKG ini mulai dari mengangon atau membawa gajah berjalan, memandikan, pemberian puding tambahan nutrisi, pemeriksaan kondisi fisik, hingga pelatihan dasar. Gajah dilatih untuk duduk, maju, mundur, dan berkomunikasi dengan mahout,” jelas Angga.
Mahout berada di bawah belalai memberi makan Raja Arman. (Foto: RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)
Pelatihan ini penting untuk memastikan gajah jinak tetap responsif saat diterjunkan dalam kegiatan patroli maupun penggiringan. Selain itu, pengelolaan kotoran gajah juga dilakukan secara sistematis dan diolah menjadi pupuk, sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Jika nafsu makan gajah menurun, mahout menambahkan vitamin dan suplemen. Setiap tiga bulan, obat cacing diberikan sebagai langkah preventif menjaga kesehatan.
Patroli, Penggiringan, dan Operasi Sapu Jerat
Peran UKG tidak berhenti pada perawatan. Unit ini juga aktif dalam patroli gajah, penggiringan kawanan gajah liar, serta operasi sapu jerat di kawasan hutan sekitar.
“Kita dalam satu bulan dua kali melakukan sapu jerat. Sudah ada perencanaannya, tapi juga menyesuaikan dengan informasi yang kita terima di lapangan,” terang Angga.
Mahout mengajak gajah patroli menyusuri sungai kecil. (Foto: RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE
Mayoritas jerat yang ditemukan sebenarnya dipasang untuk babi hutan. Namun jerat tersebut berisiko melukai bahkan membunuh gajah yang melintas.
“Jangan sampai gajah yang kena jerat,” tegasnya.
Selain patroli dan pengamanan, UKG Estate Ukui juga aktif melakukan sosialisasi perlindungan satwa liar. Edukasi diberikan kepada masyarakat sekitar serta kunjungan dari sekolah-sekolah untuk mengenalkan pentingnya menjaga gajah dan habitatnya sejak usia dini.
Gajah April diajak berfoto. (Foto: RAHMADI DWI PUTRA/RIAU ONLINE)
Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang, membangun kesadaran kolektif bahwa keberadaan gajah bukan ancaman, melainkan kekayaan hayati yang harus dijaga bersama.
Raja Arman dan Simbol Kebesaran
Tak jauh dari lokasi Carmen dan April, berdiri seekor gajah jantan dewasa bernama Raja Arman. Tubuhnya besar dan kokoh, dengan kulit abu-abu kecokelatan bertekstur kasar dan penuh lipatan alami. Dua gading panjang melengkung ke depan menjadi ciri yang menegaskan wibawanya.
Belalainya terangkat tinggi, seolah merespons instruksi. Di atas punggungnya, sang mahout duduk tegap mengenakan pakaian hijau tua lengkap dengan topi. Tangannya memegang belalai dengan kendali yang lembut, gestur sederhana yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan satwa liar.
Di tengah lanskap hutan hijau Sumatera, Raja Arman bukan sekadar individu gajah. Ia menjadi simbol kebesaran alam sekaligus representasi nyata upaya konservasi yang terus diperjuangkan.
Ikatan Mahout dan Gajah
Di balik keberhasilan perawatan itu, ada dedikasi para mahout yang hidup berdampingan dengan gajah setiap hari. Salah satunya Porada Harahap, yang bertanggung jawab atas Carmen dan April.
“Tidak semua mahout bisa cocok dengan semua gajah. Saya pegang Carmen dan April. Suka dukanya, karena Carmen sudah pernah melahirkan, ada kepuasan tersendiri,” kata Porada.
Rutinitas mereka dimulai sejak pagi, memberi makan, memandikan, memantau kondisi kesehatan, hingga membangun komunikasi yang konsisten. Kepercayaan antara mahout dan gajah tidak tercipta dalam sehari saja, ia lahir dari interaksi yang sabar dan berulang.
Menambah Harapan di Tengah Ancaman
Upaya konservasi di UKG Estate Ukui menjadi oase di tengah ancaman serius terhadap gajah Sumatera. Konflik habitat, penyempitan ruang jelajah, hingga jerat dan perburuan masih menjadi tantangan nyata.
Namun di sudut Kabupaten Pelalawan ini, konservasi tidak berhenti pada slogan. Ia hadir dalam langkah-langkah konkret, patroli hutan, operasi sapu jerat, edukasi masyarakat, hingga perawatan harian yang telaten.
Komitmen tersebut juga diperkuat oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau sebagai otoritas pengelola satwa dilindungi.
Kepala BBKSDA Riau, Supartono menegaskan, pihaknya terus memperkuat sistem perlindungan gajah, khususnya di kawasan kantong-kantong jelajah yang rawan konflik.
“Yang pertama, kami dari BKSDA Riau terus memperkuat pengelolaan koridor gajah. Dari beberapa koridor yang ada, akan diintegrasikan dan diperkenalkan satu koridor dengan koridor lainnya dalam satu sistem koridor satwa yang saling terhubung,” ujar Supartono.
Menurutnya, keterhubungan antar koridor menjadi kunci agar ruang gerak gajah tetap terjaga dan tidak terfragmentasi oleh aktivitas manusia.
“Dalam waktu dekat, kami akan mengoptimalkan pengamanan di kantong-kantong jelajah gajah melalui patroli dan operasi bersama para pihak, termasuk pihak swasta dan stakeholder lainnya,” tambahnya.
Ia menegaskan, kolaborasi dengan perusahaan yang berada di sekitar habitat gajah menjadi bagian penting dalam strategi perlindungan jangka panjang.
Supartono berharap, penguatan koridor, patroli terpadu, serta sinergi lintas sektor dapat memperkecil risiko konflik dan menekan ancaman terhadap gajah Sumatera di Riau.
Menjaga tujuh ekor gajah mungkin terdengar kecil dibanding luasnya hutan Sumatera. Tetapi dari tujuh itu, lahir April. Dari satu kelahiran, tumbuh kemungkinan masa depan baru.
Di setiap derap langkah berat yang memecah sunyi UKG Estate Ukui, harapan itu tidak hanya dijaga, tetapi juga terus ditambah dengan komitmen bersama untuk memastikan gajah Sumatera tetap hidup di tanahnya sendiri.

