RIAU ONLINE, PEKANBARU - Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lapas Kelas IIA Pekanbaru, gema azan itu berkumandang, memecah sunyi yang biasanya lekat dengan stigma dan penyesalan.
Suaranya mengalun lembut, menembus lorong-lorong sempit, mengetuk hati ratusan jiwa yang tengah mencari jalan pulang, bukan sekadar pulang ke rumah, tetapi pulang kepada Sang Pencipta.
Hari itu adalah malam ketiga Ramadan 1447 H, Jumat, 20 Februari 2026. Bukan puluhan, melainkan ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bergegas mengambil peci, sarung, dan pakaian terbaik yang mereka miliki.
Tak ada lagi hiruk-pikuk urusan dunia. Yang tersisa hanya keheningan, doa, dan harapan.
Langkah-langkah mereka tertib menuju Masjid At-Taubah yang berdiri di dalam area lapas. Di atas tikar sederhana dan lantai semen yang dingin, mereka berdiri rapat dalam saf.
Tak ada perbedaan usia, tak ada sekat masa lalu. Tua dan muda menyatu dalam gerakan yang sama, rukuk, sujud, dan menengadahkan tangan memohon ampunan.
Beberapa pasang mata tampak sembab. Tetesan air mata jatuh tanpa malu. Penyesalan memang datang belakangan, namun Ramadan mengajarkan bahwa pintu taubat tak pernah benar-benar tertutup. Di balik jeruji itu, harapan justru tumbuh lebih kuat.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, hadir di tengah mereka. Mengenakan peci dan kemeja putih, ia berdiri dalam saf, menyatu tanpa jarak.
Bukan sebagai pemimpin yang mengawasi dari kejauhan, melainkan sebagai bagian dari jamaah yang sama-sama menengadahkan doa.
Menurut Yuniarto, lebih kurang 700 WBP Muslim mengikuti kegiatan kerohanian selama Ramadan tahun ini. Antusiasme mereka terasa berbeda. Ada semangat untuk berubah, ada tekad untuk memperbaiki diri.
"Ramadan ini menjadi momentum bagi mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik," ujar Yuniarto penuh harap.
Usai Salat Isya dan Tarawih berjamaah, suasana belum juga sepi. Mushaf Alquran dibuka, ayat demi ayat dilantunkan dalam tadarus bersama.
Target mereka bukan sekadar membaca, tetapi mengkhatamkan Alquran selama bulan suci. Di Masjid At-Taubah, suara bacaan Alquran mengalun, menjadi penawar rindu dan penyejuk hati.
Di luar, aparat TNI dan Polri turut berjaga, memastikan ibadah berlangsung aman dan khusyuk. Namun di dalam, yang terjaga bukan hanya keamanan, melainkan juga harapan.
Harapan untuk kembali ke keluarga tercinta dengan wajah baru. Harapan untuk menebus masa lalu dengan masa depan yang lebih terang.
Selama menjalani masa pembinaan, mereka tak hanya belajar tentang hukum dan konsekuensi.
Mereka ditempa dengan keterampilan: berkebun, budidaya ikan, beternak ayam petelur, membuat kerajinan, hingga mengelola sampah menjadi pupuk organik. Keringat mereka jatuh bukan lagi untuk kesalahan, tetapi untuk bekal kehidupan.
Ramadan di balik jeruji bukan tentang keterbatasan, yakni tentang kesempatan kedua.
Di tempat yang sering dianggap akhir dari segalanya, justru lahir awal yang baru. Di antara tembok semen dan tikar sederhana, ratusan jiwa bersujud, merendahkan diri, dan perlahan membangun kembali harga diri yang sempat runtuh.
Gema azan itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun bagi mereka, azan adalah panggilan untuk bangkit. Panggilan untuk berubah.
Panggilan untuk pulang suatu hari nanti ke pangkuan keluarga, membawa tekad, keterampilan, dan hati yang telah ditempa oleh doa-doa panjang di bulan penuh berkah.
"Kelak, mereka (WBP-red) mampu berubah untuk masa depan yang lebih cerah," tutup Yuniarto.

