RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kalimat tegas ini diucapkan Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, saat meresmikan Tim RAGA pada 14 Mei 2025 lalu, seolah membentur realita pahit di jalanan Kota Pekanbaru.
"Jika ada satu orang saja masyarakat yang merasa tidak aman, itu berarti tugas kita belum berhasil dan gagal," ujar Irjen Herry Heryawan kala itu.
Alih-alih merasa aman, warga justru dihantui rentetan aksi kriminalitas mulai dari begal, jambret, hingga pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang terjadi secara beruntun. Indikator "kegagalan" yang sempat disebut sang Jenderal kini mulai dipertanyakan efektivitasnya di lapangan.
Ketakutan warga bukan tanpa alasan. Pada Jumat, 9 Januari 2026, dua insiden besar terjadi nyaris bersamaan. Di Jalan Dr. Susilo, Kecamatan Sail, seorang ibu rumah tangga menjadi korban begal saat subuh menyapa pukul 05.20 WIB. Motornya dirampas paksa oleh dua pria tak dikenal, mengubah waktu tenang warga menjadi momen menakutkan.
Di hari yang sama, aksi serupa terjadi di Jalan Bakti, kawasan Arifin Achmad. Seorang ibu muda harus dilarikan ke RS Syafira setelah jatuh tersungkur dari motornya akibat dipepet dan dijambret. Luka fisik yang diderita korban menjadi bukti nyata bahwa jalanan protokol pun tak lagi menjamin keselamatan.
Teror berlanjut ke Jalan Delima. Seorang wanita kehilangan perhiasan emasnya setelah dijambret dua pelaku yang mengendarai motor NMAX. Keberanian pelaku beraksi di kawasan keramaian menunjukkan bahwa kehadiran aparat atau tim khusus belum memberikan efek gentar yang maksimal bagi para pelaku kriminal.
Tak hanya di jalanan, aksi pencurian motor juga kian nekat. Paling anyar, pada Minggu 8 Februari 2026, sekitar pukul 00.48 WIB, satu unit sepeda motor Honda Beat raib digasak pencuri di Jalan Hangtuah. Rekaman CCTV memperlihatkan betapa tenangnya pelaku beraksi di depan sebuah kedai harian, meski sempat diteriaki warga, mereka berhasil melenggang bebas tanpa terkejar.
Rentetan kejadian ini memicu keraguan publik terhadap Tim RAGA yang digadang-gadang sebagai ujung tombak pengamanan. Kehadiran tim khusus ini dipertanyakan, apakah patroli sudah menyentuh titik rawan di jam-jam krusial seperti subuh dan tengah malam? Ataukah peresmiannya setahun lalu hanya menjadi seremoni tanpa dampak jangka panjang?
Keberanian Kapolda Riau untuk mengevaluasi jajarannya secara menyeluruh kini diuji. Sebagaimana filosofi yang ia sampaikan sendiri, selama masih ada warga yang was-was saat keluar rumah, maka pekerjaan rumah Polda Riau belum benar-benar selesai.
Namun, masyarakat tidak butuh angka statistik keberhasilan, melainkan rasa tenang saat melintasi jalanan Ibu Kota Riau.

