RIAU ONLINE, PEKANBARU - PT Sarana Pembangunan Riau (SPR) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Kantor SPR Jalan Diponegoro, Kota Pekanbaru, Selasa 30 Desember 2025.
Direktur PT SPR, Ida Yulita Susanti mengatakan rapat ini guna membahas sejumlah agenda. Diantaranya pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Tahun Buku 2026, alih kelola operator WK Langgak kepada Kingswood Capital Limited, pengelolaan Aryaduta.
"Kemudian, pengembalian pengelolaan Pabrik Rice Processing Complex (RPC) kepada Pemprov Riau. Hingga penunjukan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk melakukan audit Laporan Keuangan Tahun Buku 2025 PT SPR beserta anak perusahaan," ujarnya.
Dalam agenda tersebut hadir Pemprov Riau diwakili oleh Kabiro Ekonomi Boby Rachmat, serta jajaran direksi dari SPR, SPR Langgak, SPR Trada dan SPR Citra Lestari.
Ida menjelaskan, RKAP yang telah disahkan bersama pemegang saham ini adalah sejumlah strategi yang telah disusun untuk mencapai target deviden sebesar Rp5 miliar pada tahun 2026.
Target dividen tersebut 4 kali lebih tinggi dari kemampuan PT SPR selama belasan tahun lalu. Namun, Ida menjelaskan selama ia yang menjadi pimpinan dari PT SPR, target tersebut akan dicapai dengan kerjasama dan koordinasi di antara anak PT SPR.
"Sesuai dengan keyakinan kita, bahwa PT SPR bisa meraih dividen Rp5 miliar tahun depan. Kita sudah susun strateginya, selama saya menjadi direktur SPR, saya pasti wujudkan program-program yang sudah kita matangkan," ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa SPR sudah melakukan audit kepada PT SPR Trada. Hasil audit sudah keluar, dan proses penanganan serta hukumnya akan segera diberlakukan.
"SPR Trada sudah kita audit, banyak kegiatan diluar aturan. Ini menjadi catatan bagi direksi baru sekarang, hasil audit akan kita rilis pada pertemuan selanjutnya," jelasnya.
Lebih lanjut, SPR Langgak juga akan mengembangkan usaha baru dan mendirikan anak perusahaan dengan nama SPR Hangtuah.
"Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kontribusi untuk perusahaan," jelasnya.
SPR juga akan mengembangkan usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Dimana usaha ini menjadi strategi selanjutnya untuk meningkatkan pendapatan perusahaan.
"Bisnis AMDK masuk dalam bisnis kita di 2026. Semua sudah proses, tinggal kita cari investor dan bisa kita jalankan tahun depan," jelasnya.
Sementara itu, terkait isu bahwa dirinya akan dicopot melalui RUPS-LB dalam waktu dekat Ida menyampaikan pihaknya tidak akan berkomentar mengenai isu yang muncul di luar.
Menurutnya, setelah menjabat sebagai Direktur PT SPR dalam 4 bulan terakhir, ia hanya fokus untuk menuntaskan masalah-masalah yang ada di PT SPR dan anak-anak perusahaan. Sehingga 2026, PT SPR dapat bangkit dan memenuhi target deviden yang telah diumbarnya.
"Isu itu ya biasa-biasa saja. Saat ini kita gelar RUPS untuk membahas program kerja dan bisnis untuk tahun 2026," pungkasnya.

