RIAU ONLINE, PEKANBARU - Tak hanya jadi tempat menjalani hukuman, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru juga menjadi tempat mengasah kemampuan dalam beternak dan bertani.
Lapas Pekanbaru memiliki kreasi unik untuk ketahanan pangan dengan membentuk budidaya kolam ikan patin serta mengelola peternakan ayam petelur dan pertanian sayur-sayuran.
Semua itu, dikerjakan dan dilakukan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan dirasakan manfaatnya oleh pelaku UMKM di Pekanbaru. Pada Sabtu, 6 Desember 2025, Lapas Kelas IIA Pekanbaru melaksanakan panen ikan patin sebanyak 2 Ton.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, menyampaikan bahwa panen ini merupakan bukti nyata keberhasilan program pembinaan berbasis ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi di dalam lapas.
"Seperti yang kita saksikan bersama, hari ini kita melaksanakan panen ikan patin di kolam budidaya sekitar Lapas. Seluruh prosesnya dikerjakan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Ini sesuai dengan salah satu cita program pemerintah dalam bentuk ketahanan pangan,' ujar Yuniarto.
Selain budidaya ikan patin, Lapas Kelas IIA Pekanbaru terus mengembangkan berbagai usaha produktif lain, seperti ternak ayam petelur serta pertanian sayuran hidroponik dan tanaman lahan basah.
"Selain ternak ikan, kita juga ada ternak ayam petelur serta pertanian lainnya. Lapas Pekanbaru ini akan kita upayakan menjadi lapas produktif, dalam arti kata mendorong pertumbuhan UMKM yang ada di Kota Pekanbaru," sambungnya.
Hasil panen pertanian dan peternakan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi WBP, tetapi juga dijual ke masyarakat sekitar sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi sekaligus pelatihan kewirausahaan.
"Untuk hasil pertanian dan peternakan kita jual seperti sayur pakcoy, ikan patin, dan kangkung untuk pemenuhan kebutuhan makanan narapidana itu sendiri. Hasilnya kita simpan ke kas negara dan sebagian hasil panen kita kembalikan serta diberikan ke WBP," jelas Yuniarto.
Tidak hanya menjadi bekal keahlian, kegiatan produktif ini juga memberikan harapan finansial bagi para WBP agar dapat kembali ke masyarakat dengan lebih percaya diri.
"Jadi saat mereka bebas nanti, ada tabungan untuk anak istri mereka yang telah menunggu," ungkapnya dengan penuh empati.
Panen patin sebanyak 2 ton ini merupakan panen perdana, dengan masa pembesaran sekitar delapan bulan.
"Untuk panen ikan baru satu kali sebanyak 2 ton dan panennya sekali 8 bulan," tutup Yuniarto.
Program ini diharapkan terus menjadi inspirasi dalam pembinaan narapidana melalui kegiatan produktif, sehingga mereka dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang mandiri, terampil, dan bermanfaat.

