RIAU ONLINE, PEKANBARU - Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Pekanbaru kembali meroket tajam dalam dua hari terakhir. Di Pasar Tradisional Dupa, harga cabai bulat merah kini mencapai Rp120.000 per kilogram, bahkan di beberapa lapak pedagang harganya tembus Rp130.000 per kilogram.
Kenaikan drastis ini membuat para pembeli mengeluhkan mahalnya kebutuhan dapur menjelang akhir pekan. Seorang warga bernama Rina (38) mengaku terpaksa mengurangi pembelian karena sudah tak sanggup mengikuti kenaikan harga.
"Biasanya saya beli satu kilo, sekarang cuma berani beli seperempat. Harganya mahal sekali, tadi saya lihat ada yang jual sampai Rp130 ribu. Kalau begini terus, masakan pedas di rumah terpaksa dikurangi," keluhnya sambil mengantri di salah satu lapak pedagang, Sabtu, 29 November 2025.
Tak hanya cabai, pasokan santan kelapa juga terbatas. Biasanya santan didatangkan dari daerah Pariaman, Sumatera Barat, namun akibat bencana alam yang melanda Sumbar dan akses jalan yang terputus, distribusi bahan baku terhambat.
Kondisi itu menyebabkan antrean panjang pembeli, bahkan beberapa kali terjadi saling berebut santan kelapa tua.
Seorang pedagang, Rahmat (45) mengatakan bahwa stok kelapa jauh berkurang dibandingkan hari-hari sebelumnya.
"Barang dari Pariaman belum masuk karena akses jalan terputus. Jadi stok sedikit, ibu-ibu sampai rebutan tadi pagi. Kalau biasanya satu truk datang, sekarang nyaris tidak ada," ujarnya.
Selain cabai dan santan, timun juga mulai langka di pasar tradisional. Harga timun yang biasanya stabil kini ikut naik, sedangkan pasokan menipis.
Sebelumnya, harga cabai di Pekanbaru berkisar Rp40.000–Rp60.000 per kilogram, namun kini peningkatan hingga dua kali lipat lebih tidak bisa dihindari karena gangguan distribusi dari sentra produksi di Sumatera Barat.
Para pedagang berharap kondisi dapat segera normal setelah akses jalan kembali pulih.
"Kami juga bingung mau jual berapa, modal saja sudah mahal. Mudah-mudahan jalan segera normal dan barang kembali lancar," tutup Rijal.

