Batuk Terlalu Keras, Wanita Ini Alami Patah Tulang Rusuk

BATUK.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINE - Batuk adalah respon alami dari tubuh sebagai sistem pertahanan saluran napas mendapat gangguan dari luar. Respon ini terkadang sangat mengganggu, apalagi jika terjadi tanpa henti.

Meski sering dianggap sebagai salah satu hal yang sepele, sebaiknya Anda tetap berhati-hati saat batuk, jika tak mau mengalami hal yang takndiinginkan seperti seorang perempuan berusia 66 tahun ini.

Perempuan yang belum disebutkan namanya ini, benar-benar batuk begitu keras hingga mematahkan tulang rusuknya. Dikutip dari laman SUARA.COM, Minggu 21 Januari 2018, perempuan ini pergi menemui dokternya.

Ia mengira dirinya hanya menderita flu. Dia sudah batuk kering selama dua minggu dan sakit di bagian dada kanannya, tapi perawatan yang diberikan untuk flu, tidak mengurangi rasa sakit tersebut.

Ketika kembali ke dokter lima hari kemudian, dia mengangkat bajunya untuk menunjukkan tanda gelap besar di sisi kanan tubuhnya, dan jelas ini ada masalah lain. Perempuan asal Massachusetts ini menjalani CT scan dengan hasil yang mengungkapkan bahwa dia mengalami patah tulang di tulang rusuk kesembilannya.

Tulang rusuknya telah patah dan kedua ujungnya telah terpisah. Tes lebih lanjut mengkonfirmasi, bahwa dia terinfeksi dengan Bordetella pertusis, yang menyebabkan batuk rejan atau pertusis, yang merupakan infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan yang mudah sekali menular.

Padahal, perempuan ini mengaku dirinya pernah menerima vaksin untuk virus tersebut delapan tahun sebelumnya. Perempuan itu mengatakan bahwa dia juga tidak berhubungan dengan orang yang menderita batuk rejan.

Batuk rejan jarang serius pada orang dewasa namun dalam kasus yang paling parah hal itu dapat menyebabkan komplikasi seperti fraktur tulang rusuk.

Gejala awal meliputi pilek, mata merah dan berair, sakit tenggorokan, dan suhu yang sedikit meningkat. Batuk rejan yang intens biasanya dimulai sekitar seminggu setelah gejala.

Perempuan itu diberi antibiotik dan sembuh total setelah menjalani operasi. Semua staf klinik dan teman dekat dan keluarga perempuan itu juga diperiksa untuk memastikan mereka tidak terkena infeksi.(2)