Oleh Ilham Muhammad Yasir
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Buku “Robohnya Sumatera Kami” yang diterbitkan oleh Samdhana Institute pada 2015 mengungkapkan dengan jelas krisis sosial dan lingkungan yang melanda Pulau Sumatera.
Meskipun terbit sepuluh tahun lalu, buku ini secara presisi mencerminkan kondisi Sumatera yang kini semakin memburuk. Karya ini disusun oleh berbagai aktivis dan organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam kampanye di Sumatera antara 2010 hingga 2015.
Buku ini berisi kumpulan surat (tulisan) yang ditujukan kepada masyarakat Sumatera yang terdampak eksploitasi lahan, deforestasi, serta kebijakan pembangunan yang merusak ekosistem. Dengan gaya penulisan yang personal dan empatik, para penulis menyampaikan bagaimana kebijakan yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi sering mengabaikan keberlanjutan hidup masyarakat dan merusak alam.
Surat-surat tersebut bukan hanya kritik terhadap pemerintah dan perusahaan, tetapi juga bentuk solidaritas terhadap mereka yang terus berjuang mempertahankan hidup dan ruang hidup mereka.
Buku ini menyoroti berbagai masalah yang dihadapi masyarakat di Sumatera, termasuk kebakaran hutan dan lahan di Riau, perampasan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Bengkulu, Jambi, Sumut dan dampak pertambangan di Aceh dan Sumbar. Masyarakat yang terdampak terus berjuang menghadapi krisis meski sering diabaikan oleh kebijakan pembangunan yang merugikan mereka.
Salah satu isu utama yang diangkat adalah dampak jangka panjang dari deforestasi dan eksploitasi lahan terhadap keseimbangan alam. Kerusakan ini tidak hanya menyebabkan hilangnya ruang hidup bagi masyarakat, tetapi juga memperburuk kerusakan ekologis, yang kini kita saksikan dalam bencana alam yang semakin sering terjadi di Sumatera.
Menghubungkan buku ini dengan bencana alam terkini, seperti banjir bandang 2025 di Sumbar, Sumut dan Aceh menunjukkan hubungan yang jelas antara kerusakan ekosistem dan intensitas bencana. Kerusakan hutan, penggundulan lahan, serta konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan mengurangi daya serap air tanah, menyebabkan banjir bandang dan longsor. Banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatera merupakan akibat dari pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan, yang juga dibahas dalam buku ini.
Buku ini mengingatkan kita bahwa bencana alam yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga akibat kebijakan yang tidak mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Perubahan iklim, deforestasi, dan eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab membuat kawasan-kawasan ini semakin rawan terhadap bencana.
“Robohnya Sumatera Kami" adalah peringatan keras bahwa keberlanjutan alam dan kehidupan sosial masyarakat tak bisa dipisahkan. Buku ini sangat relevan di tengah kenyataan bencana alam yang semakin sering terjadi dan memperingatkan kita bahwa kesalahan dalam pengelolaan alam akan berakibat fatal bagi kehidupan.
Ilham Muhammad Yasir penulis dan jurnalis lepas tinggal di Pekanbaru

