Oleh Ilham Muhammad Yasir, Redaktur Eksekutif RIAU ONLINE
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Riau, yang dulunya hijau, kini rapuh. Hutan yang menjaga tanah bertuah telah hilang. Sudah digantikan oleh sawit yang tak mampu menahan curah air yang tinggi. Andaikan hujan deras yang mengguyur Aceh dan Sumatera Utara kemarin tiba di sini, tak dapat dibayangkan bagaimana dampaknya. Tanah yang sudah terlalu lama rusak, sebenarnya hanya menunggu waktunya saja.
Riau bukan lagi daerah yang dikenal dengan kekayaan alamnya. Hutan yang dahulu menjadi penopang kehidupan kini semakin menyusut. Data dari Walhi Riau dan Jikalahari (2024) mencatat bahwa lebih dari 57% dari daratan Riau ini kini dikuasai oleh perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Perkebunan ini telah menggantikan ruang alami yang dahulu menyerap air hujan dan mencegah erosi.
Deforestasi masif yang terjadi selama bertahun-tahun telah mengubah ekosistem Riau menjadi lebih rapuh. Sungai-sungai besar seperti Kampar, Indragiri, Rokan, dan Siak, yang seharusnya menjadi saluran alami bagi air hujan, kini semakin dangkal akibat sedimentasi dan erosi tanah. Tanah yang dulu subur dan mampu menahan air kini justru mudah tergerus.
Potensi Banjir Bandang
Jika hujan ekstrem yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 tiba di Riau, dampaknya akan lebih mematikan. Sungai-sungai yang sudah tersumbat sedimentasi dan dangkal akibat deforestasi tak akan mampu menampung volume air yang datang.
Ketika air hujan yang turun dalam jumlah besar mengalir deras, tak ada lagi hutan yang berfungsi menahan dan menyaringnya. Hujan lebat akan langsung mengalir ke hulu, membawa lumpur, kayu, dan material lain dari perkebunan sawit yang ada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Banjir bandang yang muncul dengan cepat akan menerjang permukiman dan merusak infrastruktur yang ada.
Sektor perkebunan sawit, yang menjadi pilar utama ekonomi Riau, akan hancur seketika. Perkebunan yang tersebar di sepanjang DAS akan rusak parah, tanaman sawit akan terendam, dan akses transportasi menuju kebun akan terputus. Ekonomi yang bergantung pada hasil perkebunan sawit akan mengalami kerugian luar biasa. Ribuan petani yang mengandalkan mata pencaharian dari sawit akan kehilangan sumber penghidupan mereka dalam hitungan hari.
Di samping itu, ribuan warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan daerah rawan banjir akan terpaksa mengungsi. Infrastruktur vital seperti jembatan, jalan, dan fasilitas publik akan rusak parah, membuat mobilitas menjadi terbatas dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Selain dampak sosial dan ekonomi, lingkungan Riau juga akan menerima pukulan telak. Keanekaragaman hayati yang tersisa akan hancur. Hutan yang menjadi rumah bagi spesies langka seperti harimau Sumatera dan orangutan akan hilang bersama banjir dan longsor. Tanpa hutan, ekosistem ini akan kehilangan penyangga kehidupan yang telah ada sejak ribuan tahun.
Selain itu, polusi air yang terbawa banjir, seperti limbah perkebunan sawit dan pestisida, akan merusak kualitas air dan tanah, menambah beban bagi ekosistem yang sudah rapuh ini.
Upaya Mitigasi
Bencana yang melanda Sumatera kemarin seharusnya menjadi peringatan bagi Riau. Perubahan iklim yang semakin jelas mempengaruhi cuaca, sementara kerusakan ekosistem di Riau telah mencapai titik kritis. Untuk itu, langkah-langkah mitigasi harus segera diambil.
Pertama, restorasi kawasan DAS harus menjadi prioritas utama. Ini termasuk penghijauan kembali daerah hulu sungai yang rusak, perlindungan dan rehabilitasi hutan gambut, serta pengelolaan lahan yang berkelanjutan.
Kedua, penguatan penegakan hukum terhadap deforestasi ilegal perlu dilakukan secara tegas, diikuti dengan pembatasan alih fungsi lahan yang lebih ketat. Selain itu, penting untuk membangun infrastruktur yang ramah lingkungan dan mampu menahan aliran air, seperti waduk, kanal pengendali banjir, dan sistem drainase yang lebih baik.
Riau menghadapi ancaman besar jika bencana serupa yang melanda Sumatera tiba di sini. Tanah yang telah rusak, sungai yang tergerus, dan ekosistem yang hancur menjadikan Riau sangat rentan terhadap banjir bandang. Ke depannya, bencana seperti ini bisa menjadi hal yang lebih sering terjadi, kecuali jika kita segera mengambil langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kondisi alam dan pengelolaan sumber daya alam di provinsi ini.
Rehabilitasi hutan, pengelolaan DAS yang berkelanjutan, dan pencegahan alih fungsi lahan adalah kunci untuk menghindari bencana yang lebih besar di masa depan. Jika tidak ada perubahan signifikan, Riau akan terus terperosok dalam krisis ekologis yang lebih dalam. Kini saatnya bertindak, sebelum semuanya terlambat.

