Penulis: Osvian Putera
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pada masa dikerjakannya proyek militer pembangunan jalur kereta api Pakanbaroe-Moearo pada masa perang dunia ke-2 dulu. Militer Jepang menjadikan beberapa titik sebagai kamp pekerja.
Kamp ini sebenarnya kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, sebenarnya mirip-mirip dengan bedeng pekerja proyek bangunan saja sebenarnya. Bahkan kondisinya jauh lebih parah jika dibandingkan dengan bedeng-bedeng pekerja bangunan itu.
Kamp tersebut hanya terdiri dari bangunan sederhana dengan tiang dan rangka kayu sederhana, jauh dari kata kokoh. Jenis kayu yang dipergunakan pun bukan kayu-kayu keras seperti Meranti, akan tetapi jenis-jenis yang gampang didapat dan diolah.
Maka kalau dibandingkan dengan sekarang ini mirip-mirip kayu yang biasa dipergunakan untuk perancah pada proyek bangunan, kayu Dolken. Atap serta dindingnya terbuat dari daun Rumbia. Itu pun tidak semua yang pakai dinding, sebagian kamp, banyak juga yang benar-benar sederhana sekali, hanya beratap, tapi tanpa dinding.
Nah, pihak militer Jepang, membangun kamp-kamp seperti ini mulai dari Pekanbaru, tempat titik mula proyek di bagian utara. Jepang sendiri, menyebut kamp ini dengan istilah “Marai” atau sama dengan Malay, karena dalam sistem alphabet Jepang tidak ada huruf “L” dan lagi pun lidah orang Jepang juga tidak bisa mengucapkan “el” sehingga digantikan dengan “R”. Maka jadinya mereka menyebut Marai.
Malay dalam hal ini merujuk kepada kata Malay, atau (semenanjung) Malaysia. Karena dalam sistem pembagian wilayah militer Jepang. Sumatra dan Malaya, berada dibawah komando Angkatan Laut Jepang yang markas besarnya adalah di Singapura (Jepang menyebutnya Syonanto).
Di bawah wilayah besar tersebut, Sumatra juga mempunyai sub pemerintahan militer sendiri yang pusatnya adalah di Bukittinggi.
Makanya tidak salah kalau di Bukittinggi terdapat jaringan terowongan bawah tanah (yang biasa diketahui umum, di pinggir ngarai Sianok dekat taman Panorama sebenarnya hanyalah sebagian kecil, padahal sebenarnya jaringan terowongan itu konon sampai ke Jam gadang dan bahkan sampai ke desa Taluak, di pinggir selatan kota Bukittinggi).
Kamp Marai ini, bagi para bekas tahanan perang Eropa disebut dengan istilah Kamp 1, untuk memudahkan penamaan dan sistem penghitungan kamp-kamp yang tersebar dari utara ke selatan yang jumlahnya total ada 18 buah kamp tersebut.
Di mana sebenarnya terdapat beberapa buah kamp yang terdiri dari dua bagian, seperti kamp di Teratak Buluh, kamp 3 dan 3A. Kamp di Lipat Kain, kamp 7 dan 7A, kami di Petai kamp 14 dan 14A.
Kamp Marai yang sama dengan Kamp 1 ini lokasinya ada di pinggir sungai Siak, kira-kira di sekitar pasar Lima Puluh sampai Tanjung Rhu sepanjang jalan di pinggir sungai sekarang, memanjang dari barat ke timur. Panjang, ya, karena yang ditampung disini bukan sedikit.
Pernah pada suatu masa kamp ini menampung lebih dari 1.000 orang pekerja belum termasuk para penjaga serta pasukan Jepang.
Kamp 1 ini sebenarnya sebelum Jepang masuk adalah merupakan bekas tempat kerja (workshop) untuk kepentingan perusahaan minyak Belanda yang beroperasi di utara sungai Siak, yang kelak setelah perang diambil oleh Caltex/Chevron (sekarang Pertamina Hulu Rokan).
Karena memang saat itu minyak telah ditemukan di aliran sungai Rokan oleh peneliti Belanda. Jadi, workshop berada di pinggir sungai Siak, ladang minyaknya di seberang sungai menuju arah Minas dan Duri tentunya. Sedangkan kantor administrasinya ada di Jalan Bangkinang (Jl A Yani sekarang).
Lihat saja bangunan-bangunan tua di seberang pasar Kodim yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kantor militer serta café. Itulah dulu kantor perusahaan KNPM (Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij). (bersambung).

