Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Mulai kuartal ke-2 tahun 1945, sekitar Maret-April, ketika keadaan makin mendesak, sementara progress pembangunan jalur rel kereta api dirasa tidak akan bisa memenuhi target jika hanya dikerjakan dengan metode seperti yang telah sudah.
Maka pihak militer Jepang mulai memerintahkan para Romusha dan terutama tahanan perang untuk mulai bekerja dari kedua sisi. Sisi selatan yang telah jauh berkembang dari Pekanbaru sampai lewat Koto Baru dan sudah hampir pula di Logas. Mulai saat itu diminta para pekerja untuk berpindah dan memulai pekerjaan dari sisi utara di Muaro.
Maka karena itu banyak diantara pekerja yang disuruh pindah ke ujung utara dan mendirikan kamp di Muaro. Untungnya, di Muaro telah berdiri stasiun kereta yang sebelumnya telah tersambung sampai ke Sawahlunto sehingga patokan untuk bekerja sudah ada.
Ribuan kubik besi rel dipindahkan melalui kereta api melalui jalur pelabuhan Emma Haven-Padang-Solok-Sawah Lunto. Rel-rel kereta yang sudah eksis sebelumnya di Deli Spoorweg Macapij serta Billiton-Banka Tin Mascapij dibongkar dan dipindahkan melalui jalur laut.
Bahkan, konon, dari hasil penelusuran, terlihat pula besi-besi rel dengan tulisan SSS terbentar di jalur kereta Pekanbaru-Muaro ini sebagai pertanda bahwa ada juga sebenarnya besi rel itu yang dipindahkan dari Jawa, terbukti dengan tulisan SSS yang berarti Semarang Staat Spoorwagen.
Namun, walaupun sisa pekerjaan itu secara ukuran sebenarnya lebih pendek dari jalur yang sudah selesai akan tetapi sejatinya pekerjaan antara Logas sampai Muaro itu adalah bagian yang tersulit.
Dari Logas sampai ke Kota Kombu (Lubuk Ambacang) harus melewati hutan berbukit dimana sebagian bukit harus dipotong untuk membuat jalur menjadi datar dan sebagian lagi tanahnya lunak berawa-rawa sehingga butuh kerja ekstra untuk menimbun, mengeraskan dan mendatarkan gundukan tanah sebelum dipasangi rel kereta.
Belum lagi dari Kota Kombu sampai ke Durian Gadang dimana para pekerja konstruksi harus bekerja di tebing-tebing pinggir sungai yang sebagian tanahnya keras dan susah ditembus dan akhirnya harus membuat dua buah terowongan di daerah sungai Nyawan.
Membuat terowongan pada masa sekarang bagi Jepang mungkin tidak ada masalah, mereka adalah ahlinya. Tapi ingat, pada masa itu para Romusha hanya mengandalkan peralatan yang begitu sederhana seperti linggis, palu, cangkul dan sekop, sementara untuk membuang tanah dipergunakan keranjang-keranjang rotan yang nanti akan diangkat secara manual oleh para Romusha tersebut.
Tragisnya, di banyak sumber literatur yang kami baca. Informasi tentang terowongan ini nyaris luput. Kami pun baru paham setelah berkunjung secara langsung dengan dipandu oleh tetua dari Lubuk Ambacang yang tahu tentang terowongan tersebut.
Ucapan terima kasih secara khusus patut saya sampaikan kepada Bapak Nasjuneri (waktu itu Kabid di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Kuansing) dan Mak Tando yang telah menyediakan perahu untuk melacak keberadaan terowongan tersebut. Bersambung.

