Wak Jo Bungah Terima Bantuan dari Media, Pertama dalam 10 Tahun

Paijo.jpg
(Riau Online)

RIAU ONLINE, BENGKALIS - Wabah corona sangat berdampak besar pada berbagai bidang serta melumpuhkan perekonomian terhadap masyarakat Kabupaten Bengkalis, Riau. Bahkan tidak jarang masyarakat mengandalkan bantuan dari pemerintah untuk menyambung kebutuhan hidup.

Seorang warga Desa Air Putih , Kecamatam Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Paijo (59) mengaku terharu menerima bantuan sembako dan uang donasi kerjasama DCODE dan Kumparan.

Pria paruh baya, asal Ponoroga sudah merantau masuk ke Bengkalis tahun 2007 bekerja sebagai buruh bangunan. Namun nasib baik menyertainya di Tahun 2010. Dia bertemu dengan seorang dermawan yang memberinya tempat tinggal di sebuah rumah papan panggung tidak jauh dari Kantor Desa Air Putih, Kecamatan Bengkalis secara gratis.

Sejak itu pula, dirinya bersama seorang istri dan seorang putra tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah. Apalagi disaat perekonomian dari servis mesin jahit bekas kuno yang ditekuninya merosot dikarenakan pandemi corona atau covid 19 melanda Kabupaten Bengkalis

"Kami sekeluarga sangat terharu setelah menerima bantuan sembako dari media ini. Selama sepuluh tahun tinggal dan sudah KK Desa Air Putih tidak satupun kita menerima bantuan," kata Paijo ditemui RIAUONLINE.CO.ID, Selasa 26 Mei 2020 di kediamanya.

Wak Jo, sapaan akrap pria paruh baya identik menggunakan baju singlet ini menceritakan, sejak Tahun 2010 dirinya menekuni kerajinan service mesin jahit jadul. Bahkan, sering kali dia mencari mesin jahit bekas di rongsokan barang bekas untuk diperbaiki dan dijual kembali.

"Mesin mesin jahit ini kita dapat dalam keadaan sudah rusak, dan biasa kita beli dari tempat pengepul barang bekas. Tidak jarang kondisinya berkarat sehingga kita kikis karatnya dan kita cat kembali serta diservis ulang menjadi bagus lalu kita jual," cerita Wak Jo.

Meskipun tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah, Wak Jo tetap tegar menjalani hidup di masa pandemi corona dengan dibantu istrinya berjualan rokok dan jajanan minuman di kedai kecil berukuran 2 x 2 meter.

"Namun kalau mengadalkan hasil kedai ini seberapalah, tidak cukup dari hasil jual beli sedikit karena kalah dengan kedai kedai besar yang ada disekitar ini," ujar Wak Jo dengan raut wajah menyimpan kekesalan tidak ada perhatian pemkab bengkalis.

Saat pandemi Corona ini, diaku Wak Jo. Penghasilan dari servis mesin jahit sangat berkurang. Dampaknya, tidak pernah lagi ada pemesan mesin jahit bekas.

"Biasanya, Sebulan belakangan sedikitnya ada yang memesan (beli) 4 sampai 5 mesin bekas. Sejak corona ini, saya seakan hilang mata pencarian dan menjadi pengangguran," kata Wak Jo.

Dari mesin jahit bekas yang dibelinya dari pengepulan barang bekas, dirinya bisa meraup keuntungan hingga Rp 70 ribu.

"Mesin jahit rongsokan kita beli dari pengepul barang bekas seharga Rp 20 - 40 ribu. Setelah kita servis bisa laku terjual Rp 100 ribu per unitnya. Namun karena corona ini, tidak ada pesanan bahkan tidak ada yang service," pungkasnya.