Jeritan Hati Petugas Medis Bekerja Menggunakan Jas Hujan : Sebenarnya Kami Sangat Takut

dr-Morison-Bationg-Sihite.jpg
(Riau Online)
RIAU ONLINE, BENGKALIS - Maraknya Covid-19 saat ini, para dokter dan petugas medis menjadi garda terdepan dalam melayani masyarakat. Pun demikian, tidak sedikit klinik di Kabupaten Bengkalis memilih tutup praktek dalam melayani masyarakat dikarenakan sulitnya mendapaktan APD. Walaupun ada harganya meroket dari sebelumnya.

Para dokter dan perwat juga manusia biasa yang juga khawatir akan penularnya, namun sebagai tuntutan profesi mereka harus menjalani tugas dengan ekstra hati-hati. Salah satu upaya melindungi diri dengan Alat Pelindung Diri (APD).

Hal itu terlihat di Klinik Bengkalis di Kota Bengkalis, Kabupaten Bengklis. Klinik berada di Jalan Ahmad Yani dan buka tiap harinya itu ramai didatangi oleh pasien dan tetap melayani masyarakat yang datang berobat.

Saat Riauonline.co.id menyambangi Klinik Bengkalis milik dr Morison Bationg Sihite, terlihat seluruh perawatnya menggunakan APD. Tidak sebatas masker, mereka juga memakai pakaian lengkap medis berwarna putih bening seperti baju, sepatu, topi, kaus tangan, dan kacamata. Para pasien yang duduk diruang tunggu, dipanggil satu persatu.

Namun sebelumnya, pasien wajib dilakukan penyemprotan cairan disinfektan keseluruh badan lalu membasuh tangan hingga menuju keruang prakter dokter. Tujuannya untuk sterilisasi area karena sangat rentan penularan.

dr Morison Bationg Sihite ditemui diruang praktek pun tampak mengenakan APD lengkap. Ia mengaku mulai menggunakan APD di tempat praktiknya sejak pekan kemarin. Dia menegaskan bahwa virus corona tidak bisa dianggap enteng.

Pria kerab disapa dr Moris juga Anggota Komisi IV DPRD Bengkalis ini kembali menegaskan bahwa untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus tersebut bukanlah semata bisa dilakukan oleh para medis, namun harus dibarengi dengan kerja sama semua pihak dan masyarakat.

"Artinya, dalam pemutusan mata rantai copid-19 ini sangat diperlukan peran dari masyarakat. Di antaranya jaga kebersihan, gunakan masker dan ikuti aturan yang dianjurkan oleh pemerintah dengan cara menjaga jarak secara fisik dan jaga jarak dalam berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya," kata dr Moris, Jumat, 10 April 2020, petang.

Virus corona, sebut dr Moris. Sangat mudah menular dan Alat Pelindung Diri (APD) menjadi salah satu hal mutlak untuk para tenaga medis yang memang sangat rentan terpapar lantaran tugas dan pekerjaannya. Namun di tengah virus berbahaya yang mengancam, APD menjadi barang yang sangat langka dan mahal saat ini.

Hal itu pun menimbulkan keresahan tersendiri bagi kalangan petugas medis yang berada di klinik pengobatan Bengkalis. Apalagi saat ini mulai muncul temuan pasien positif meninggal dunia yang menimpa warga Desa Sungai Alam, Kecamtan Bengkalis.

"Kami tenaga medis lelah juga sebetulnya dan merasa takut karna yang kami hadapi ini adalah orang sakit. Dan menggunakan APD inipun wajib kami lakukan 1x24 jam meskipun kami menggunakannya sangat panas tapi mau diapakan lagi," ujar dr Moris berkeluh akan bahayanya menghadapi pasien disaat maraknya virus copid-19.

Diungkapkannya, di tengah resiko yang besar ini dan harga APD yang sangat mahal, pihaknya terpaksa menggunakam masker dan hanya menggunakan pakaian yang digunakan sejenis mantel biasa, karena kondisi sekarang kebutuhan tersebut sangat urget.

"Dengan menggunakan APD ini wajib dalam melayani pasien karena kita menyadari resiko yang harus dihadapi. Sebab virus ini juga menyebar dengan cara droplet melalui percikan liur pada saat batuk ataupun bersin," terang dr Moris.

Klinik Bengkalis, kata dr Moris, juga satu satu-satunnya klinik yang ada di Kota Bengkalis yang buka praktek saat maraknya pasien-pasien yang ditetapkan sebagai Orang Dalam Pantauan (ODP) oleh Pemerintah Kabupaten Bengkalis yang baru pulang dari Malaysia.

"Kita mengajak semua pihak bergandengan tangan dan bersatu untuk memerangi copid -19. Saling bahu-membahu bersama Pemerintah dan masyarakt mencegah meluasnya virus corona," imbuhnya.