Awal Tahun 2020, DBD di Kuansing Capai 37 Kasus

Gigitan-Nyamuk.jpg
(INTERNET)

Laporan: ROBI SUSANTO 

RIAU ONLINE, TELUK KUANTAN - Di awal Tahun 2020, Dinas Kesehatan Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau mencatat sudah ada ditemukan sebanyak 37 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Kasus DBD paling banyak ditemukan di Kecamatan Kuantan Tengah.

"Awal tahun ini ada 37 kasus DBD, paling banyak di Kuantan Tengah," ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Jumardi, Kamis, 16 Januari 2020.

Jumardi belum bisa merinci desa-desa mana saja di Kecamatan Kuantan Tengah banyak ditemukan kasus DBD. "Desanya memang belum terinci," katanya.

Pihaknya menghimbau masyarakat untuk tetap waspada agar tidak terjangkit DBD. Karena menurutnya, tren angka penderita demam berdarah akan naik pada awal tahun sampai Februari nanti.

Untuk itu Jumardi menghimbau kepada masyarakat untuk selalu melakukan upaya pencegahan dengan menerapkan 3 M Plus (menguras, menutup serta mengubur).

"Mari ajak semuanya untuk rutin membersihkan lingkungan masing-masing, jangan ada barang-barang bekas yang bertumpukan disekeliling rumah atau pekarangan kita dan jangan ada wadah yang tidak terpakai tergenang oleh air ini harus dibersihkan," katanya.

Dan jika menemukan gejala-gelaja DBD pada anggota keluarga dihimbau untuk segera melakukan pemeriksaan ke Puskesmas terdekat atau rumah sakit.

DBD Meningkat Tiga Kali Lipat Pada 2019

Jumardi juga mengatakan kalau angka DBD di Kuansing meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2018 lalu. Pada 2018 jumlah DBD hanya 75 kasus dan pada 2019 jumlahnya naik menjadi 246 kasus.

"Angkanya meningkat tiga kali lipat dan tahun lalu ada satu orang meninggal dunia," kata Jumardi.

Satu warga meninggal dunia tersebut kata Jumardi merupakan warga Pulau Kopung, Kecamatan Sentajo Raya. "Beliau meninggal di RSUD dan sebelumnya memang sudah sakit juga," katanya.

Dari kabar yang diterimanya, warga yang meninggal dunia tersebut karena ada faktor keterlambatan perawatan dan korban waktu itu tidak mau dirawat.

Padahal dari informasi yang diterima waktu itu, bidan desa sudah berupaya agar yang bersangkutan segera dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan dan dirawat, tapi yang bersangkutan kabarnya tidak mau.

"Meninggalnya di RSUD, kata orang rumah sakit meninggal karena DBD," terang Jumardi.