Banjir Riau Disebut Akibat Hutan Berubah FUngsi dan Rusak

diskusi-banjir.jpg
(hasbullah)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Direktur eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Riko Kurniawan sepakat jika alam tidak boleh disalahkan sebagai penyebab bencana yang melanda Riau.

Hal tersebut ia sampaikan dalam Talkshow yang digelar BEM UR bekerjasama dengan Riau Online dan Bharabas 97,5 FM bertema "Kemarau Asap, Hujan Banjir, Dua Musim di Riau Bikin Sengsara?" di Jeber Cafe, Sabtu, 21 Desember 2019.

Dijelaskan Riko, bencana asap dan banjir memang menjadi bencana langganan Riau, dimana saat kemarau lahan gambut terbakar dan sementara saat musim hujan di lahan mineral terjadi banjir.

"Kita harus akui ada masalah dengan hutan konservasi kita, bukan cuma hancur tapi sudah berubah fungsi. Jangan salahkan alam, introspeksi diri kita," kata Riko.

Dicontohkannya bencana asap, dulu sebelum tahun 1990-an berapapun lamanya kemarau tapi tidak ada kabut asap, namun di atas tahun 1990-an Karhutla selalu menjadi permasalahan di Riau.

Begitu juga dengan banjir, banjir terjadi karena hutan sudah berubah fungsi dari tempat resapan air menjadi perkebunan sehingga pohon-pohon ditebang. Akibatnya, terjadi erosi yang membuat sungai menjadi dangkal.

"PLTA tidak akan buka pintu kalau ada resapan air, sekarang sungai kita sudah dangkal dan kering. Bahkan kemungkinan bisa saja sungai akan mati dan tertutup. Makanya, pemerintah jangan berpikir investasi dan PAD saja," pungkasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Riau, Marwan Yohanis melalui sambungan telepon juga menyampaikan bahwa banjir yang terjadi di Dapilnya, Kuantan Singingi tidak terlepas dari kurangnya perhatian terhadap lingkungan.

Pasalnya, di Riau hampir semua tempat yang harusnya menjadi tempat resapan air harus menjadi korban dari rakusnya pembangunan maupun investasi.

"Air itu turun ke atap, ke drainase, dan mengalir ke sungai tanpa ada resapan. Akibatnya kalau hujan deras, sungai ini jadi meluap dan menenggelamkan pemukiman," katanya.

Disamping itu, Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Jim Gafur, menjelaskan bahwa pemerintah Riau sudah menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor.

Saat ini sudah ada 6 kabupaten yang mulai terdampak banjir, yakni Kampar, Rohul, Pelalawan, Kuansing, Inhu dan Rohil. Sedangkan untuk Rohul sudah terjadi Longsor.

Menurutnya, banjir yang terjadi di Riau ini tidak terlepas dari tingginya curah hujan baik di Riau maupun di provinsi tertinggi, Sumatera Barat.

Layaknya Karhutla, Jim tidak membantah jika faktor kerusakan lingkungan juga menjadi penyebab banjir, sehingga ia berharap agar mahasiswa yang hadir bisa menjadi kader penyelamat lingkungan ini.

"Saya apresiasi adik-adik ini, musim asap kemarin mereka demo, tetapi setelah demo mereka ke lapangan. Saya salut sama mereka, mereka mau merasakan sulitnya penderitaan petugas dan masyarakat. Banjir dan asap memang karena manusia, untuk itu mari bersama kita jaga lingkungan sebagai bentuk antisipasi banjir," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Darius Husin mengatakan saat ini pihaknya sudah melakukan upaya dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak banjir, salah satunya dapur umum di Desa Buluh Cina, Kampar.

"Jadi, untuk kebutuhan pangan juga sudah kita sediakan di sana. Kemudian, untuk kebutuhan medis kita juga sudah koordinasi dengan dinas terkait," tutupnya.

Sedangkan Badan SAR Nasional meski sudah diundang, namun saat acara berlangsung hingga selesai tidak bisa memenuhi undangan dari mahasiswa.




RIAU ONLINE, PEKANBARU - Direktur eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Riko Kurniawan sepakat jika alam tidak boleh disalahkan sebagai penyebab bencana yang melanda Riau.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Talkshow yang digelar BEM UR bekerjasama dengan Riau Online dan Bharabas 97,5 FM bertema "Kemarau Asap, Hujan Banjir, Dua Musim di Riau Bikin Sengsara?" di Jeber Cafe, Sabtu, 21 Desember 2019.
Dijelaskan Riko, bencana asap dan banjir memang menjadi bencana langganan Riau, dimana saat kemarau lahan gambut terbakar dan sementara saat musim hujan di lahan mineral terjadi banjir.
"Kita harus akui ada masalah dengan hutan konservasi kita, bukan cuma hancur tapi sudah berubah fungsi. Jangan salahkan alam, introspeksi diri kita," kata Riko.
Dicontohkannya bencana asap, dulu sebelum tahun 1990-an berapapun lamanya kemarau tapi tidak ada kabut asap, namun di atas tahun 1990-an Karhutla selalu menjadi permasalahan di Riau.
Begitu juga dengan banjir, banjir terjadi karena hutan sudah berubah fungsi dari tempat resapan air menjadi perkebunan sehingga pohon-pohon ditebang. Akibatnya, terjadi erosi yang membuat sungai menjadi dangkal.
"PLTA tidak akan buka pintu kalau ada resapan air,  sekarang sungai kita sudah dangkal dan kering. Bahkan kemungkinan bisa saja sungai akan mati dan tertutup. Makanya, pemerintah jangan berpikir investasi dan PAD saja," pungkasnya.
Sementara itu, anggota DPRD Riau, Marwan Yohanis melalui sambungan telepon juga menyampaikan bahwa banjir yang terjadi di Dapilnya, Kuantan Singingi tidak terlepas dari kurangnya perhatian terhadap lingkungan.
Pasalnya, di Riau hampir semua tempat yang harusnya menjadi tempat resapan air harus menjadi korban dari rakusnya pembangunan maupun investasi.
"Air itu turun ke atap, ke drainase, dan mengalir ke sungai tanpa ada resapan. Akibatnya kalau hujan deras, sungai ini jadi meluap dan menenggelamkan pemukiman," katanya.
Disamping itu, Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Jim Gafur, menjelaskan bahwa pemerintah Riau sudah menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor.
Saat ini sudah ada 6 kabupaten yang mulai terdampak banjir, yakni Kampar, Rohul, Pelalawan, Kuansing, Inhu dan Rohil. Sedangkan untuk Rohul sudah terjadi Longsor.
Menurutnya, banjir yang terjadi di Riau ini tidak terlepas dari tingginya curah hujan baik di Riau maupun di provinsi tertinggi, Sumatera Barat.
Layaknya Karhutla, Jim tidak membantah jika faktor kerusakan lingkungan juga menjadi penyebab banjir, sehingga ia berharap agar mahasiswa yang hadir bisa menjadi kader penyelamat lingkungan ini.
"Saya apresiasi adik-adik ini, musim asap kemarin mereka demo, tetapi setelah demo mereka ke lapangan. Saya salut sama mereka, mereka mau merasakan sulitnya penderitaan petugas dan masyarakat. Banjir dan asap memang karena manusia, untuk itu mari bersama kita jaga lingkungan sebagai bentuk antisipasi banjir," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial, Darius Husin mengatakan saat ini pihaknya sudah melakukan upaya dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak banjir, salah satunya dapur umum di Desa Buluh Cina, Kampar.
"Jadi, untuk kebutuhan pangan juga sudah kita sediakan di sana. Kemudian, untuk kebutuhan medis kita juga sudah koordinasi dengan dinas terkait," tutupnya.
Sedangkan Badan SAR Nasional meski sudah diundang, namun saat acara berlangsung hingga selesai tidak bisa memenuhi undangan dari mahasiswa.