Malaysia Mau Bantu Padamkan Karhutla RI, Tawarkan Pesawat Bombardier & Helikopter

Pesawat-Malaysia-Bombardier.jpg
Pesawat Malaysia, Bombardier CL-415MP, mengambil air dalam pemadaman karhutla di Sumsel tahun 2015. (Foto: Dok MMEA Malaysia via kumparan)

RIAU ONLINE - Malaysia menawarkan bantuan untuk mengatasi kebakaran lahan dan hutan (karhutla) di Indonesia. Hal ini disampaikan Wakil Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pertemuan pada Kamis, 17 September 2026.

Bantuan yang ditawarkan termasuk satu unit pesawat Bombardier CL-415MP yang sebelumnya pernah dikerahkan untuk membantu Indonesia menangani karhutla tahun 2015.

Selain itu, tawaran bantuan itu juga berupa tiga helikopter serta 52 perwira dan personel dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Nadma), Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (MMEA), dan Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF).

"Hal ini akan dirujuk ke Presiden Prabowo Subianto untuk mendapatkan persetujuan dari pemerintah Indonesia,” kata Ahmad Zahid, dikutip dari kumparan, Jumat, 18 September 2026.

Pesawat Bombardier CL-415MP milik MMEA, yang memiliki kemampuan melakukan operasi pemadaman kebakaran dari udara, sebelumnya pernah dikerahkan ke Sumatera Selatan pada tahun 2015. Pesawat tersebut menjatuhkan 546.000 liter air selama misi lima hari.

Video aksi pesawat itu saat mengambil air sempat viral di Indonesia beberapa waktu lalu.



Ahmad Zahid mengatakan pesawat tersebut akan mengambil air dari danau, laut, atau sungai sebelum menjatuhkannya di area yang terdampak kebakaran, sementara tiga helikopter yang ditawarkan juga akan dikerahkan untuk tujuan yang sama.

"Malaysia sangat prihatin dengan masalah ini, yang terjadi setiap tahun, baik karena pembakaran terbuka di Kalimantan maupun Sumatera, dengan asap yang dihasilkan sampai ke Malaysia. Kami ingin membantu Indonesia mengatasi masalah ini bersama-sama," kata Wakil PM Malaysia keturunan Jawa tersebut.

Meski begitu, Ahmad Zahid menegaskan bahwa bantuan tersebut tidak bermaksud untuk mencampuri urusan dalam negeri Indonesia, melainkan untuk membantu mengatasi kabut asap lintas batas yang juga berdampak pada negara-negara tetangga.

"Yang penting bagi kami adalah menyelesaikan masalah ini sebelum terjadi setiap tahun. Ini berarti harus memiliki rencana mitigasi atau strategi untuk mencegahnya terjadi. Rencana mitigasi ini demi kepentingan Malaysia dan Indonesia," ujarnya.

Ahmad Zahid mengatakan Malaysia dan Indonesia juga mempertahankan kerja sama yang erat dalam manajemen bencana melalui pertemuan dan latihan bersama, termasuk di tingkat Asean.

Pada karhutla 2015, Indonesia menerima bantuan dari beberapa negara asing.

Mengutip situs Sekretariat Negara RI, Australia kala itu mengirimkan Hercules L 100 dengan kapasitas 15 ton air, Singapura mengirim 1 heli Chinook, sedang Malaysia mengirimkan 1 pesawat Bombardier 415 MP dengan kapasitas air 6 ton.

Sedangkan untuk penanganan karhutla 2026, Jepang memberikan bantuan melalui pengerahan kapal JS Kunisaki yang membawa dua unit hovercraft (LCAC), 3 helikopter Chinook serta sekitar 300 personel militer dalam misi bantuan kemanusiaan