Sepucuk Surat Nadiem Makarim untuk Sang Ibu yang Sepanjang Hidup Melawan Korupsi

Ibu-Nadiem-makarim.jpg
Atika Algadri sedang membaca sepucuk surat di Hari Ibu yang dikirim oleh sang anak, Nadiem Makarim. (Istimewa via Liputan6.com)

RIAU ONLINE - Bukan bunga, pelukan, dan kata terima kasih, mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, mempersembahkan sepucuk surat yang ia tulis untuk sang ibunda di Hari Ibu.

Melalui suratnya, putra dari Atika Algadri, seorang pegiat antikorupsi yang sepanjang hidupnya berdiri di garis depan perjuangan moral bangsa, itu menyebut hari ini “penuh dengan perasaan yang membingungkan.”

Ia bersedih karena melihat ibunya kehilangan anaknya, sulit tidur, dan hidup dalam kekhawatiran.

Sang ibu yang sudah berusia 81 tahun, digambarkan memiliki semangat seperti aktivis mahasiswa yang “nekat turun ke jalanan” sebuah potret keteguhan yang kontras dengan situasi rapuh yang sedang mereka hadapi.

Kontradiksi itu terasa tajam. Seorang ibu yang hidupnya dihabiskan untuk melawan korupsi, kini harus menyaksikan anaknya dituduh melakukan kejahatan yang selama ini ia lawan.

Nadiem mengingatkan kembali masa kecilnya, meja makan yang menjadi ruang diskusi panas para aktivis antikorupsi, pintu rumah yang tak pernah sepi dari perdebatan tentang negara yang bersih.


Dari ibunyalah, ia belajar membedakan benar dan salah. Dari ibunya pula, ia mewarisi api perjuangan itu.

Namun di Hari Ibu ini, Nadiem tidak meminta ibunya menjadi “pendekar” sepanjang waktu. Ia meminta sesuatu yang sangat manusiawi, menangis.

“Ibu juga boleh menjadi Ibu biasa yang sedih dan kangen sama anaknya,” tulisnya, dikutip dari Liputan6.com, Selasa, 23 Desember 2025.

Ada pengakuan yang lembut bahwa air mata bukan kelemahan, melainkan cara menenangkan hati. Di tengah sorotan publik dan kerasnya stigma, ia ingin ibunya tahu bahwa menjadi ibu yang rapuh sesekali adalah hal yang sah.

Surat itu kemudian beralih menjadi janji. Nadiem menegaskan ikatan darah dan nilai yang tak terputus, yaitu kekuatan dalam diri ibunya juga hidup dalam dirinya. Perjuangan ibunya tidak akan padam, ia berjanji akan membawa obor itu kepada anak-anaknya kelak, seperti yang ibunya lakukan padanya. Di bagian ini, surat berubah menjadi doa dan keyakinan,

“Badai ini akan berlalu… Kebenaran selalu diberikan jalan,” tulisnya.

Di tengah tudingan dan proses yang berjalan, ada ruang kemanusiaan yang layak didengar, yaitu hubungan ibu dan anak yang diuji oleh keadaan.

Nadiem menutup suratnya dengan kalimat sederhana namun sarat makna “I love you, Ibu” sebuah pengakuan yang tak membutuhkan panggung, hanya keheningan untuk diresapi.