Kisah ABK Indonesia 6 Bulan Terombang-ambing dalam Sergapan Milisi Benghazi

Ilustrasi-Penyanderaan-ABK.jpg
(MERDEKA.COM)

RIAU ONLINE, JAKARTA - Rony Wiliam, Anak Buah Kapal (ABK) asal Jakarta, tak pernah menyangka akan menghabiskan enam bulan hidupnya terombang-ambing di kapal dalam situasi penyanderaan.

Saat memutuskan untuk bekerja sebagai ABK, pria yang kini berusia 40-an tahun itu tentu tak pernah membayangkan akan terperangkap di atas kapal kecil dan dibatasi gerak-geriknya oleh milisi bersenjata di Benghazi, Libya.

Namun sejak September 2017 lalu, Rony bersama lima orang ABK asal Indonesia lain dan kapten kapalnya yang berasal dari Italia, harus dihadapkan dengan penyanderaan kelompok anti pemerintahan Libya yang berkuasa di Tripoli.

Mulanya, kapal tempat Rony bekerja berangkat dari Malta, Eropa. Dia mengaku tak tahu benar ke mana kapal pencari ikan ini menuju. Yang dia tahu, kapal Salvatore 6 berbendera Malta itu biasa beroperasi di Laut Mediterania.

Baru sekitar 40 kilometer angkat sauh, kapal mereka disergap milisi bersenjata.

“Kami digiring masuk sama pasukan bersenjata. Barangkali mereka milisi atau apa, saya enggak mengerti,” ujar Rony saat melakukan konferensi pers soal pembebasannya di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, melansir Anadolu Agency, Selasa, 3 April 2018.

Saat ditangkap dan dibawa ke wilayah kelompok itu, lanjut Rony, mereka dilucuti. Semua barang-barang milik ABK dan kaptennya dirampas hingga tak bersisa.

“Bahkan celana dalam pun dirampas,” sebut Rony.

Mereka, lanjut dia, lantas disekap di dalam sebuah kontainer dan ditelantarkan di atas kapal yang berlabuh di sebuah pelabuhan. Pelabuhan mana, Rony pun tak tahu pasti. Ia hanya tahu, itu wilayah Benghazi.

“Selama seminggu kami di pelabuhan itu, baru kemudian kami dipindahkan,” kata dia.

Dalam proses itu, aku Rony, kapten kapalnya kemudian dibebaskan oleh para milisi dengan alasan kesehatan. Sementara, Rony dan kelima temannya dipindahkan ke pelabuhan lain di Benghazi, masih di atas kapal.

Kehidupan penyanderaan, menurut Rony, kemudian dijalaninya dengan tabah. Meski tidak diborgol atau diikat, mereka selalu diawasi dan dikawal jika ingin bepergian. Namun dia masih bersyukur keenamnya tak mengalami penganiayaan atau tindakan buruk lain.

Kata dia, sikap para pemberontak Benghazi berangsur-angsur baik setelah tahu dirinya berasal dari Indonesia. Saat para sandera kekurangan makanan, Rony mengisahkan, para pemberontak akan memberikan makanan tambahan.

Kekurangan makanan, sebut Rony, kerap terjadi. Jika tak ada makanan betul, dia dan kawan-kawannya terpaksa memancing. Kalau tangkapan sedang banyak, para militan membantu menjualkan hasil tangkapan itu ke pasar di Benghazi.

“Kami merasa aman, walaupun milisi mereka istilahnya masih berbaik hati,” ungkap dia.

Rony justru waswas dengan keadaan di luar tempat penahanannya. Di lokasi pelabuhan yang pertama, sebut Rony, sangat dekat dengan lokasi pertempuran antara Pemerintah Libya dengan kelompok bersenjata.

Peluru dan bom nyasar pernah dilihatnya secara langsung dari jarak dekat. “Jauhnya cuma dua kilometer. Jadi pesawat yang menggempur Kota Benghazi kita bisa saksikan, seperti itu nyata,” kenang Rony.

Kedekatan Indonesia dengan Libya yang membebaskan

Pada 23 Maret 2018, tim yang dipimpin Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal berangkat dari Tunisia menggunakan pesawat tidak terjadwal ke Benghazi.

Sesampainya di Benghazi, Iqbal bergabung dengan tim dari KBRI Tripoli yang sudah terlebih dahulu berada di Benghazi.

Target yang diberikan padanya, sebut Iqbal di Kementerian Luar Negeri pada Senin, sehari setelah kedatangannya ke Benghazi keenam ABK warga Indonesia itu harus sudah dibebaskan. Namun, target itu gagal dipenuhi.

“Hari kedua belum disepakati mekanisme dan lokasinya. Karena pemilihan lokasi serah terima juga harus memperhitungkan situasi keamanan,” Iqbal beralasan.

Setelah dilakukan pendekatan, lanjut Iqbal, akhirnya disepakati pembebasan dilakukan pada 27 Maret pukul 12.30 waktu setempat, di pelabuhan ikan di Benghazi.

Iqbal menggambarkan, pelabuhan tempat 6 ABK itu ditahan sudah terbengkalai. Hanya kapal tempat penyanderaan saja yang masih beroperasi.

“Di situ, kapal yang masih layak dipakai untuk sandera,” jelas dia.

Iqbal menyebut, keberhasilan membebaskan 6 ABK itu karena pendekatan intensif Pemerintah Indonesia dengan Libya selama 6 bulan terakhir.

Indonesia dan Libya, sebut Iqbal, juga punya kedekatan tersendiri. “Indonesia sahabat Libya sama-sama memediasi perdamaian di Filipina Selatan pada 1996,” kisah Iqbal.

Selain itu, lanjut Iqbal, keberhasilan pembebasan ini juga berkat diplomasi netral yang terus dipertahankan Indonesia dalam menyikapi konflik yang terjadi di Libya.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE 

Follow Twitter @red_riauonline

Subscribe Channel Youtube Riau Online

Follow Instagram riauonline.co.id 

 

-->