RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, mengakui bahwa sebelum menjabat sebagai pimpinan tertinggi kepolisian di Bumi Lancang Kuning, dirinya menyimpan stigma (pandangan) negatif terhadap Provinsi Riau.
Stigma itu tak lain adalah citra buruk Riau sebagai salah satu daerah penyumbang asap terbesar akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Namun setelah menjabat sebagai Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan menyadari bahwa kenyataan tersebut memang belum berubah banyak.
Bahkan dirinya terjun langsung memadamkan Karhutla bersama Rocky Gerung di Kota Dumai, 27 Maret 2026 dan Kabupaten Bengkalis, 3 April 2026.
"Sebelum saya datang ke sini, saya mohon maaf, saya memiliki stigma yang negatif, terutama melihat Riau sebagai salah satu provinsi penghasil asap," ujar Irjen Herry Heryawan, Senin, 7 Juli 2025 lalu.
Meskipun mengakui masih merasakan kenyataan pahit tersebut, Irjen Herry tak ingin menyerah begitu saja. Akpol 1996 itu mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk bersama-sama mengubah citra buruk itu dengan membangun kesadaran lingkungan.
"Saya mengajak kita semua untuk bisa membuat komitmen bersama agar kita bisa mengubah stigma itu. Caranya adalah dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan baik, menjadikannya satu habitat dan karakter yang baik," jelas Herry.
Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan menyampaikan bahwa Provinsi Riau selama ini kerap dicap sebagai penghasil asap, akibat kebakaran hutan yang berulang.
Namun, Irjen Herry optimistis stigma itu bisa dihapus secara perlahan lewat gerakan bersama yang menyentuh akar kesadaran masyarakat, mulai dari individu hingga institusi.
"Saat ini Riau sebagai daerah penghasil asap harus kita kikis stigma itu. InsyaAllah bisa hilang sedikit demi sedikit dengan kegiatan-kegiatan kolektif, seperti penanaman pohon, menjaga kebersihan kota, serta merawat lingkungan dari tingkat terkecil: keluarga," jelas jenderal yang akrab disapa Herimen itu.
Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak cukup dilakukan dengan tindakan teknis semata, melainkan harus muncul dari moral dan kesadaran pribadi setiap warga negara.
Jenderal bintang dua itu menekankan pentingnya edukasi sejak dini melalui kegiatan yang tematik dan menyentuh, terutama di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga perguruan tinggi.
"Kesadaran lingkungan harus dibangun dari moral. Ini bisa digelorakan lewat kegiatan-kegiatan yang tematik, menyentuh, dan disesuaikan dengan segmen usia. Dari PAUD, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum," tegasnya.
Selain itu, mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Cipayung Plus bersama personel Bhabinkamtibmas turut menyatakan komitmennya sebagai agen perubahan dan agen keamanan.
Mereka akan menjadi garda depan dalam mewujudkan eco-policing, yakni pendekatan keamanan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan hidup.
"Saya minta adik-adik mahasiswa sebagai agen perubahan, dan Bhabinkamtibmas sebagai agen keamanan, bisa berperan aktif. Kalau ini berjalan selaras, maka kita akan bisa lahirkan green police, polisi ramah lingkungan yang menjaga keamanan sekaligus menjaga bumi," pesan Irjen Herry.
Tak lupa, ia mengajak seluruh komponen masyarakat mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pelaku usaha, akademisi, hingga media massa untuk bergandeng tangan menyebarluaskan semangat Green Policing ini.
"Rekan-rekan media sangat saya harapkan perannya. Kegiatan ini punya makna yang besar. Mari kita sampaikan kepada publik bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita semua," harapnya.
Lulusan Akpol 1996 itu menambahkan, kegiatan serupa akan digelar secara berjenjang di tingkat Polres, agar gerakan ini tidak berhenti di satu titik, melainkan menyebar ke seluruh pelosok Riau.
"Dari Polda ke Polres, terus kita gelorakan. Insya Allah walaupun sumbangsih kita baru setetes keringat, itu sangat berarti. Bukan hanya untuk manusia, tapi untuk seluruh makhluk hidup: hewan, pohon, dan alam sekitar kita," tutupnya.

