RIAU ONLINE, SIAK - Ancaman El Nino Godzilla mulai membayangi musim kemarau, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak lagi sekadar menunggu munculnya titik api, namun perlu strategi dan langkah tepat memitigasi karhutla sejak dini. Penguatan sistem pemantauan, penambahan personel, hingga patroli rutin dilakukan sebagai upaya pencegahan.
Dari ruang kontrol, deretan layar monitor tiap detik menampilkan peta digital yang terus bergerak. Setiap perubahan kondisi cuaca, titik panas (hotspot), arah angin hingga kelembapan lahan dipantau tanpa henti oleh para operator yang berjaga selama 24 jam.
Tidak ada ruang bagi kelengahan. Di tengah ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan Juli-Agustus menjadi ancaman nyata meningkatnya risiko karhutla, seluruh personel di Situation Room Arara Abadi-APP Group bekerja dalam status siaga penuh.
Situation Room menjadi pusat kendali seluruh sistem pencegahan dan penanggulangan karhutla perusahaan yang menghubungkan 26 distrik operasional di Provinsi Riau. Dari ruangan inilah setiap informasi mengenai potensi kebakaran diterima, diverifikasi hingga diteruskan kepada tim di lapangan untuk ditangani secepat mungkin.
Head Fire Operation Management (FOM) PT Arara Abadi-APP Group, Richard Sudinardo Sihombing mengatakan perusahaan telah meningkatkan seluruh sistem kesiapsiagaan sebagai respons terhadap potensi musim kering akibat El Nino.
"Begitu ada hotspot yang terdeteksi satelit, tim langsung melakukan ground check untuk memastikan apakah benar merupakan titik api atau hanya titik panas. Dalam waktu maksimal 24 jam, statusnya harus sudah terverifikasi," ujar Richard sembari memantau kondisi cuaca dari layar monitor di ruang Situation Room, Jum'at 17 Juli 2026.
Sistem pemantauan perusahaan memanfaatkan berbagai sumber data satelit, termasuk platform Sipongi milik pemerintah, serta sistem pemantauan internal yang hanya dapat diakses oleh petugas perusahaan. Seluruh data tersebut dipadukan dengan informasi cuaca, arah angin, suhu udara dan tingkat kelembapan sehingga keputusan penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Sebagai bagian dari penguatan sistem pengawasan, perusahaan mengoperasikan 26 Situation Room yang saling terhubung, didukung 86 menara api, 132 pos pantau, serta 16 kamera CCTV yang dipasang di menara-menara pengawas di seluruh distrik. Seluruh CCTV terhubung melalui jaringan internet seluler sehingga kondisi lapangan dapat dipantau secara real time.
"Api yang masih kecil bisa segera diketahui sehingga penanganan lebih cepat dilakukan sebelum meluas," katanya.
Tidak hanya mengandalkan teknologi, Arara Abadi juga memperkuat pengawasan langsung di lapangan. Sejak Mei lalu perusahaan menambah pos pengamanan di lokasi-lokasi yang dinilai rawan kebakaran. Di wilayah operasional Riau yang meliputi Kabupaten Siak, Pelalawan hingga Bengkalis kini terdapat 34 pos siaga yang dijaga bersama personel perusahaan, Babinsa, Bhabinkamtibmas serta tokoh masyarakat.
Pos-pos tersebut tidak hanya berfungsi sebagai titik pemantauan, tetapi juga mengawasi aktivitas masyarakat yang keluar masuk kawasan guna mencegah potensi pembakaran lahan sejak dini.
"Begitu mulai muncul prediksi El Nino, kami langsung bergerak. Kami tidak menunggu kejadian. Pencegahan menjadi fokus utama. Semua kami persiapkan sejak Januari," ujar Richard.
Selain memperkuat pengawasan, perusahaan juga menambah tiga Tim Reaksi Cepat (TRC) sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Saat ini terdapat delapan tim TRC, masing-masing beranggotakan tujuh personel yang siap diterjunkan ke lokasi kebakaran kapan saja.
Mereka menjadi garda terdepan dalam penanganan awal sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih besar.
Sementara itu, sebanyak 1.173 personel Regu Pemadam Kebakaran (RPK) disiagakan di seluruh distrik operasional. Seluruh personel secara rutin mengikuti pelatihan teori maupun praktik agar mampu melakukan penanganan secara cepat dan terukur.
Perusahaan juga terus membina Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa sekitar kawasan konsesi sebagai bagian dari upaya pencegahan berbasis masyarakat.
Komitmen perusahaan tidak hanya terbatas di dalam wilayah konsesi. Richard menegaskan Arara Abadi memiliki kebijakan membantu penanganan kebakaran hingga radius lima kilometer di luar konsesi.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mencegah api merambat masuk ke areal perusahaan sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam mengendalikan karhutla.
"Kalau ada titik api di luar konsesi dan berpotensi membesar, kami tetap membantu pemadaman. Prinsipnya menjaga kawasan secara bersama-sama," jelasnya.
Sepanjang Januari hingga Juni, perusahaan mencatat terdapat 35 titik api yang seluruhnya berhasil ditangani. Menariknya, seluruh kejadian tersebut berada di luar areal konsesi perusahaan.
Tim perusahaan diterjunkan mulai dari proses pemadaman hingga pendinginan untuk memastikan api benar-benar padam.
Untuk menghadapi kondisi darurat, perusahaan juga menyiagakan armada udara berupa helikopter yang dapat digunakan untuk patroli maupun operasi water bombing. Penempatan helikopter akan diperkuat di wilayah utara, tengah dan selatan Riau agar waktu respons menuju lokasi kebakaran menjadi lebih singkat.
Meski demikian, Richard menegaskan penggunaan helikopter hanya menjadi pilihan ketika akses darat sulit dijangkau. Penanganan melalui jalur darat tetap menjadi metode paling efektif untuk memadamkan api hingga tuntas.
Seluruh peralatan pemadam juga ditempatkan di Pusat Komando Pengendalian (Puskodal) dan dirawat secara berkala melalui workshop khusus agar selalu siap digunakan sewaktu-waktu.
Bagi perusahaan, kesiapsiagaan menghadapi El Nino bukan hanya soal menyiapkan personel dan peralatan, tetapi membangun sistem pencegahan yang bekerja sejak sebelum kebakaran terjadi. Mulai dari pemantauan berbasis teknologi, patroli darat dan udara, penambahan pos siaga, penguatan Tim Reaksi Cepat, hingga kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat menjadi satu kesatuan strategi untuk menjaga hutan tetap aman dari ancaman karhutla.
Dengan sistem yang terintegrasi tersebut, perusahaan berharap potensi kebakaran dapat dicegah sejak dini sehingga dampak terhadap lingkungan, masyarakat, dan aktivitas ekonomi dapat diminimalkan.

