12 Pesawat Dikerahkan Hadapi Karhutla Riau, 30 Ton Garam Disebar ke Langit Riau

Abdul-Hari.jpg
omandan Lanud Roesmin Nurjadin sekaligus Dansatgas Udara Provinsi Riau, Marsma TNI Abdul Haris, saat Rapat Koordinasi Karhutla di Mapolda Riau, Kamis, 27 Agustus 2026 (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Satuan Tugas (Satgas) Udara Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Riau dari Lanud Roesmin Nurjadin terus mengoptimalkan operasi udara untuk membantu penanganan kebakaran sekaligus mengantisipasi meluasnya kabut asap.

Komandan Lanud Roesmin Nurjadin sekaligus Dansatgas Udara Provinsi Riau, Marsma TNI Abdul Haris, mengatakan saat ini sedikitnya 12 pesawat dioperasikan untuk mendukung operasi penanganan karhutla di Riau.

Belasan pesawat tersebut terdiri dari sejumlah helikopter milik Polri, helikopter Polda Riau, serta armada udara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Selain itu, Satgas Udara juga mendapat dukungan sejumlah helikopter dari perusahaan pemegang konsesi yang dinilai memiliki kepedulian dan tanggung jawab dalam membantu penanganan karhutla di wilayah Riau.

“Alhamdulillah memang kami mengoperasikan ada total hari ini sebanyak 12 pesawat. Terdiri dari pesawat-pesawat helikopter dari Polri, kemudian juga ada helikopter dari Polda Riau, ditambah beberapa pesawat heli dan fix wing dari BNPB, juga dari Kementerian LHK,” ujar Abdul Haris, Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, dukungan dari sejumlah konsesi berupa helikopter water bombing menjadi tambahan kekuatan penting bagi Satgas Udara dalam mempercepat pemadaman titik-titik api.

“Ada juga beberapa heli yang diperbantukan kepada kami yang berasal dari beberapa konsesi yang memang alhamdulillah bertanggung jawab dan telah menyiapkan heli-heli water bombing yang bisa kami gunakan,” lanjutnya.

Abdul Haris menjelaskan, Satgas Udara menjalankan tiga kegiatan utama dalam operasi penanganan karhutla. Kegiatan pertama yakni patroli udara untuk memantau kondisi titik panas dan titik api yang telah terdeteksi sebelumnya.

Patroli dilakukan sejak pagi hari. Dari udara, personel memantau perkembangan titik api, termasuk memastikan apakah api masih menyala, meluas atau telah berhasil dipadamkan oleh Satgas Darat.

“Kami melaksanakan patroli udara di mana pagi-pagi kami terbang, kemudian kami memantau titik-titik api yang sebelumnya memang sudah ada dan juga kami pantau perkembangannya, apakah masih ada atau sudah padam,” jelasnya.

Setelah patroli selesai dan titik-titik api berhasil dipetakan, armada water bombing kemudian diterbangkan untuk membantu personel di lapangan melakukan pemadaman dari udara.



“Pada saat selesai terbang patroli itu, barulah kami akan menerbangkan heli-heli water bombing kami untuk membantu Satgas Darat dalam melaksanakan pemboman water bombing udara,” sambung Abdul Haris.

Selain patroli dan water bombing, Satgas Udara juga mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu meningkatkan potensi hujan di wilayah Riau.

Abdul Haris menyebut keberhasilan pelaksanaan OMC tidak terlepas dari dukungan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya dalam menyediakan data dan informasi mengenai kondisi cuaca serta keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Untuk mendukung operasi tersebut, Satgas Udara membentuk tim khusus yang disebut sebagai tim pemburu awan.

Tim ini bertugas mencari dan mengejar awan-awan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi hujan. Pesawat dapat diterbangkan sewaktu-waktu ketika berdasarkan pemantauan terdapat awan yang dinilai memenuhi kondisi untuk dilakukan penyemaian.

“Kami membentuk satu tim yang namanya adalah tim pemburu awan. Jadi kami siap untuk menerbangkan pesawat kami kapan pun, bahkan jam malam pun yang berlaku,” ungkapnya.

Menurut Abdul Haris, operasi tidak terbatas pada penerbangan siang hari. Pesawat juga pernah diterbangkan pada malam hari ketika ditemukan awan potensial berdasarkan informasi dari BMKG.

“Kami pernah menerbangkan pesawat itu apabila memang kami pantau, kami temukan ada awan-awan yang berpotensi hujan yang diinfokan oleh kawan-kawan BMKG, kemudian kami dapat terbang dan kami semai di udara-udara,” katanya.

Hasil operasi modifikasi cuaca yang dilakukan Satgas Udara juga menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang Agustus 2026, sebanyak 30 ton garam telah disebarkan dalam kegiatan penyemaian awan.

Abdul Haris berharap operasi tersebut dapat terus dilakukan secara optimal sehingga awan-awan yang memiliki potensi hujan dapat terbentuk dan menghasilkan curah hujan di wilayah yang membutuhkan.

“Sejauh ini dapat kami sampaikan bahwa di bulan Agustus ini saja, kami telah menyemai, menebarkan 30 ton garam,” ujarnya.

Ia menyebut penyemaian awan tersebut turut berkontribusi terhadap turunnya hujan di sejumlah wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir.

“Alhamdulillah memang selama beberapa hari ini tadi disampaikan oleh Bapak Kapolda bahwa telah berhasil turun hujan hampir di seluruh wilayah Provinsi Riau,” terangnya.

Meski demikian, Abdul Haris menegaskan upaya penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan operasi udara. Pencegahan dari masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan titik api tidak kembali bermunculan.

Ia mengimbau seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, terutama di tengah kondisi rawan karhutla yang masih terjadi.

“Ke depan, kami lakukan bersama. Awan-awan ini kita akan dapat berada di atas wilayah Riau dan dapat kita semai,” tuturnya.

Abdul Haris juga mengajak seluruh elemen masyarakat meningkatkan kepedulian dengan saling memberikan informasi dan mengingatkan apabila menemukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Satgas Udara mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran-pembakaran. Kita juga harus perhatikan kepedulian dengan saling menginformasikan dan mengingatkan kita bersama demi keselamatan dan kebaikan kita semua,” pungkasnya.