Rentetan Insiden Dugaan Keracunan MBG di Riau, Keamanan Pangan Jadi Sorotan

Diduga-Keracunan-Usai-Santap-MBG-Puluhan-Siswa-di-Tapung-Hulu-Dilarikan-ke-Puskesmas.jpg
Puluhan siswa di Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa, 18 Agustus 2026. (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Riau menjadi sorotan setelah tiga kejadian dugaan keracunan makanan dilaporkan terjadi setelah para pelajar menyantap menu MBG yang didistribusikan ke sekolah.

Peristiwa tersebut terjadi di Kota Dumai dan Kabupaten Kampar. Korban yang terdampak mulai dari siswa sekolah menengah hingga anak-anak sekolah dasar. Mereka mengalami berbagai keluhan kesehatan, mulai dari mual, muntah, pusing, sakit perut, diare hingga demam.

Rangkaian kejadian ini menimbulkan perhatian serius karena MBG merupakan program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi peserta didik.

Pelaksanaan program pun dituntut memenuhi standar keamanan pangan serta prosedur operasional yang telah ditetapkan.

1. Siswa SMAN 2 Dumai Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Peristiwa pertama melanda puluhan siswa SMAN 2 Dumai pada Selasa, 4 Agustus 2026, setelah menyantap menu nasi putih, ayam woku, tahu goreng saus, tumis kacang panjang, dan semangka dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sehat Sejahtera Bersama.

Gejala mual dan pusing mulai dirasakan beberapa jam kemudian hingga puncaknya pada malam hari, bahkan seorang siswa harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit pada Kamis dini hari. 

Pihak SMAN 2 Dumai juga membenarkan adanya laporan dari sejumlah orang tua siswa mengenai kondisi anak mereka.

“Kami mendapatkan laporan langsung dari orang tua murid bahwasanya anak-anak mereka merasakan sakit perut, mual, dan pusing usai menyantap makanan yang didistribusikan ke sekolah,” ungkap perwakilan SMAN 2 Dumai.

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan kemudian diterjunkan untuk melakukan investigasi. Tim melibatkan Dinas Kesehatan Kota Dumai, Puskesmas Jaya Mukti, Satintelkam Polres Dumai hingga Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kota Dumai, Suryani, mengatakan pihaknya langsung bergerak setelah memperoleh informasi mengenai siswa yang mengalami keluhan kesehatan.

“Begitu dapat informasi tersebut, kami langsung mengambil langkah cepat turun ke lapangan untuk melakukan investigasi ke sekolah dan ke dapur SPPG,” terang Suryani.



Menurut Suryani, mayoritas siswa mengalami mual, pusing dan sakit perut pada malam hari. Namun, terdapat pula siswa yang mulai merasakan keluhan hanya beberapa jam setelah mengonsumsi makanan.

“Dominan anak-anak mengalami mual, pusing, dan sakit perut pada malam hari, walaupun ada yang sudah merasakan gejala empat jam setelah makan,” ujarnya.

Untuk mengetahui penyebab pasti, sampel makanan kemudian dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Riau.

“Kami bekerja sesuai prosedur, sampel makanan sudah dikirim ke Labkes Provinsi Riau dan hasilnya sedang kita tunggu,” tegas Suryani.

2. Puluhan Siswa SD di Dumai Diduga Keracunan MBG

Insiden kedua terjadi tidak berselang lama di Kota Dumai, tepatnya pada Kamis, 13 Agustus 2026, menimpa 45 siswa dari SDN 013 dan SDN 015 Buluh Kasap. Para siswa kemudian mendapatkan penanganan medis di RSUD dr Suhatman Kota Dumai.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal kepolisian dan Dinas Kesehatan, juru masak SPPG mulai mengolah hidangan bakso orek dan tumisan sejak tengah malam, namun saat proses pengemasan ulang pada pukul 08.30 WIB terdeteksi bau tidak sedap yang menandakan masakan telah basi.

Meski pihak pengelola berusaha menarik kembali distribusi makanan, sebagian porsi sudah terlanjur dikonsumsi para siswa hingga menyebabkan mual dan muntah parah. Petugas menemukan bahwa kondisi dapur penyedia tidak ideal karena memiliki area basah tanpa alat pengontrol suhu panas, sehingga memicu perkembangbiakan mikrobiologi yang merusak kualitas makanan.

3. Siswa SMKN 1 Tapung Hulu dan SDN 08 Kampar Diduga Keracunan

Dugaan keracunan ketiga merebak di Kabupaten Kampar, berdampak pada puluhan siswa SMKN 1 Tapung Hulu dan SDN 08 Kampar hingga pelayanan medis harus dipusatkan di Puskesmas Tapung untuk penanganan dan observasi puluhan korban.

Menanggapi situasi yang kian meresahkan, Wakil Bupati Kampar sekaligus Ketua Satgas MBG, Misharti, mendatangi lokasi dan langsung mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara seluruh operasional produksi dapur penyedia terkait.

Pemerintah daerah bersama pihak kepolisian kini memperketat pengawasan pada seluruh rantai pasok program MBG, mulai dari higienitas bahan baku, standar sanitasi dapur, jeda waktu pengemasan, hingga prosedur distribusi agar keselamatan para siswa dapat terjamin sepenuhnya.

Keamanan Pangan Jadi Sorotan

Tiga kejadian dugaan keracunan tersebut terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan. Dua kasus pertama terjadi di Kota Dumai, sementara kasus ketiga terjadi di Kabupaten Kampar.

Rentetan peristiwa ini membuat aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG menjadi perhatian. Apalagi, makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak dan pelajar yang menjadi sasaran utama program.

Dari rangkaian kejadian di Dumai, pemeriksaan terhadap sampel makanan dan dapur SPPG menjadi bagian penting untuk mengungkap penyebab sebenarnya. Begitu pula dengan kejadian di Kampar yang masih membutuhkan pemeriksaan dan observasi lebih lanjut.

Hingga kini penyebab pasti masing-masing kejadian dinyatakan secara resmi melalui pemeriksaan dan investigasi, dugaan keracunan tersebut belum dapat serta-merta disimpulkan seluruhnya disebabkan oleh makanan MBG.

Namun, rentetan kejadian ini menjadi peringatan bahwa proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa harus benar-benar memenuhi standar keamanan pangan.

Program MBG pada dasarnya dirancang untuk memberikan asupan bergizi bagi anak-anak. Karena itu, pelaksanaan yang tidak sesuai prosedur justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.