RIAU ONLINE, PEKANBARU – Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Riau, Dr Freddy Simanjuntak, menegaskan bahwa kritik yang selama ini disampaikan pihaknya terhadap penanganan kasus narkotika bukanlah bentuk kebencian terhadap institusi kepolisian.
Sebaliknya, GRANAT mengaku justru ingin menjaga marwah dan nama baik institusi Polri agar tidak tercoreng oleh ulah segelintir oknum.
Pernyataan tersebut disampaikan Freddy menanggapi adanya anggapan bahwa GRANAT terlalu keras dalam menyoroti dugaan penyimpangan yang melibatkan aparat penegak hukum, khususnya dalam persoalan penyalahgunaan dan peredaran narkoba.
Menurut Freddy, GRANAT selama ini hadir sebagai mitra pemerintah dan mitra strategis Polri dalam upaya pemberantasan narkotika, terutama dalam menjalankan program P4GN atau Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba.
"Artinya, kalau kami keras mengkritik, itu karena kami sayang kepada institusi Polri dan ingin menjaga nama baiknya. Kami tidak mau institusi yang sudah baik ini tercemar gara-gara ulah oknum," ujar Freddy.
Ia menegaskan, masih banyak anggota Polri yang bekerja secara profesional, berintegritas, dan benar-benar mengabdi kepada masyarakat. Karena itu, menurutnya, jangan sampai citra mereka rusak akibat perilaku segelintir aparat yang bermain dalam kasus narkotika.
"Anggota Polri yang benar-benar berintegritas itu banyak. Jangan sampai semuanya ikut tercemar hanya karena oknum tertentu. Polri harus tampil di depan sebagai contoh dan teladan bagi masyarakat," katanya.
Freddy juga menepis anggapan bahwa GRANAT memiliki hubungan yang buruk dengan kepolisian. Ia menilai ada pihak-pihak tertentu yang sengaja membenturkan organisasi anti narkoba tersebut dengan institusi Polri.
"Bukan berarti kami tidak suka dengan Polri. GRANAT itu mitra Polri dan membantu program pemerintah. Ada beberapa media atau pihak yang mencoba membenturkan kami dengan kepolisian, padahal sebenarnya kami bersinergi," tegasnya.
Menurut Freddy, kritik yang disampaikan GRANAT justru bertujuan untuk memperkuat institusi kepolisian agar semakin dipercaya publik, terutama di tengah maraknya peredaran narkoba yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
"Kami ingin institusi Polri bersih, apalagi saat ini peredaran narkoba begitu marak. Jangan sampai institusi ini terkotori oleh oknum-oknum yang justru bermain di dalamnya," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagai pejabat negara dan aparat penegak hukum, setiap anggota Polri harus siap menerima kritik dari masyarakat. Kritik, kata dia, merupakan bagian dari kontrol sosial demi perbaikan institusi.
"Jangan anggap GRANAT terlalu keras kepada Polri. Sebagai pejabat negara jangan sampai anti kritik,” katanya lagi.
Freddy berharap pimpinan kepolisian bertindak tegas terhadap anggota yang terbukti melakukan pelanggaran, khususnya dalam penanganan kasus narkotika. Ia menilai perlindungan terhadap oknum yang bersalah hanya akan membuat praktik serupa terus berulang.
"Kami berharap pimpinan Polri jangan membela anak buahnya jika memang bersalah. Kalau oknum merasa dilindungi, tidak ada efek jera. Akibatnya kejadian seperti ini akan terus berulang," terangnya.
Ia menyoroti dugaan praktik “tangkap lepas” dalam kasus narkoba yang menurutnya sangat merusak upaya pemberantasan narkotika di Indonesia.
Freddy mengaku prihatin apabila pengedar narkoba bisa bebas hanya karena adanya transaksi tertentu dengan aparat.
"Terutama dalam masalah pemberantasan narkoba. Jangan sampai saat ditangkap, pengedar kasih uang lalu dilepas. Tangkap, kasih uang, lalu dilepas lagi. Sampai kapan bangsa ini akan seperti itu?” tegasnya.
Freddy menambahkan, perang melawan narkoba membutuhkan komitmen bersama dari seluruh elemen bangsa, termasuk aparat penegak hukum, pemerintah, organisasi masyarakat, dan masyarakat luas.
Menurutnya, apabila aparat yang seharusnya menjadi garda terdepan justru terlibat dalam praktik penyimpangan, maka upaya menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba akan semakin sulit.
"Peredaran narkoba ini musuh bersama. Kalau semua serius dan bersih, saya yakin pemberantasan narkoba bisa maksimal. Tapi kalau masih ada oknum bermain, tentu masyarakat akan kehilangan kepercayaan," pungkasnya.

