Kemenkop: Gula Koperasi Petani Tebu dapat Dipasarkan Lewat KDKMP

Gula-Koperasi-Petani-Tebu-dapat-Dipasarkan-Lewat-KDKMP.jpg
Buruh tebang mengangkut tebu ke atas truk di Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/kye)

RIAU ONLINE, JAKARTA - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menyatakan gula yang diproduksi dari hasil panen petani tebu yang dihimpun koperasi dapat dipasarkan melalui gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai bagian dari penguatan ekosistem industri gula nasional.

Dalam Rembuk Petani Tebu Rakyat di Semarang, Jawa Tengah, Selasa, Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan pemerintah terus mendorong koperasi berperan dalam mewujudkan swasembada pangan, termasuk untuk komoditas gula.

Menurut dia, peningkatan produksi gula nasional perlu didukung melalui konsolidasi petani tebu dan penguatan tata kelola koperasi agar produktivitas serta kesejahteraan petani meningkat.

"Koperasi bisa membantu kegiatan di sektor kehidupan masyarakat, khususnya di sektor pertanian, tanaman pangan, dan perkebunan," kata Ferry, dikutip dari ANTARA, Rabu, 15 Juli 2026.

Ia menjelaskan panen tebu yang dikonsolidasikan koperasi nantinya akan diserap oleh PT PG Rajawali I, anak perusahaan BUMN pangan ID Food, sehingga petani memperoleh kepastian pasar dan harga.



Setelah diolah menjadi gula konsumsi, produk tersebut diharapkan dapat dipasarkan melalui gerai-gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia.

"Kita akan memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencarikan solusi terhadap kegiatan pertanian, tanaman pangan, hortikultura, dan sebagainya," ujarnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kemenkop juga akan terus mendampingi transformasi tata kelola koperasi petani tebu serta memperkuat kapasitasnya melalui pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi.

Ferry mengatakan LPDB tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga akan melakukan inkubasi, pendampingan, dan penguatan tata kelola agar koperasi petani tebu menjadi lebih produktif dan profesional.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan produksi gula konsumsi nasional saat ini telah mampu dipenuhi dari dalam negeri, sedangkan kebutuhan gula rafinasi untuk industri masih bergantung pada impor.

Ke depan, lanjut dia, pemerintah menargetkan seluruh kebutuhan gula, termasuk untuk mendukung pengembangan bioetanol E10 hingga E20, dapat dipenuhi dari produksi tebu dalam negeri.

"Ini saatnya kebangkitan pertanian yang dibungkus melalui koperasi. Presiden sangat fokus agar produktivitas pertanian tinggi, petaninya sejahtera, dan jalur bisnisnya bisa dikelola melalui koperasi," kata Sudaryono. (ANTARA)