Riau Masih Jadi Pintu Masuk Narkoba: 3.164 Kasus Terungkap, 18 Polisi Dipecat

wakapolda-rilis-kasus-narkoba2.jpg
Wakapolda Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi (kedua dari kiri), ungkap tindak pidana narkotika jaringan internasional, Senin, 30 Maret 2026. (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Polda Riau menegaskan komitmennya dalam memberantas peredaran narkotika, baik yang melibatkan jaringan luar maupun oknum internal.

Wakapolda Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi, menyebut jajaran kepolisian mengungkap ribuan kasus narkoba sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, sekaligus menyoroti ancaman serius kejahatan transnasional yang menjadikan Riau sebagai pintu masuk utama.

Ia menegaskan bahwa kejahatan narkotika saat ini merupakan bagian dari kejahatan terorganisir lintas negara yang memiliki pola sistematis, termasuk upaya merekrut aparat pemerintah untuk memperlancar bisnis haram tersebut.

"Salah satu ciri khas kejahatan transnasional organized ini adalah bagaimana mereka merekrut petugas pemerintah yang memiliki otoritas untuk memperlancar kejahatannya. Ini terjadi secara universal, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain seperti Meksiko dan Amerika," ujar Brigjen Hengki, Senin, 30 Maret 2026.

Sepanjang periode 2025 hingga 2026, Polda Riau mencatat telah mengungkap 3.164 kasus narkotika dengan jumlah tersangka yang signifikan. Angka ini disebut sebagai bukti keseriusan aparat dalam memerangi peredaran narkoba di wilayah tersebut.

Tak hanya menindak pelaku dari luar, Polda Riau juga melakukan penindakan tegas terhadap oknum internal. Sebanyak 18 anggota Polri telah diberhentikan tidak dengan hormat (PDH) karena terbukti terlibat dalam kasus narkoba.

"Kami tegas, baik ke luar maupun ke dalam. Tidak ada toleransi. Jika anggota terlibat narkoba, tidak ada lagi hukuman disiplin langsung kode etik, dengan risiko pemecatan dan proses pidana," tegasnya.

Riau dinilai memiliki kerawanan tinggi karena menjadi jalur strategis masuknya narkotika dari luar negeri, terutama melalui jalur laut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, sebagian besar barang haram tersebut masuk melalui pesisir pantai di wilayah Rohil, Bengkalis, Dumai, Kepulauan Meranti hingga Indragiri Hilir.


"Pintu gerbangnya adalah wilayah Polda Riau. Barang masuk dari negara tetangga melalui jalur laut, kemudian diedarkan lewat jalur darat lintas utara, barat, timur, bahkan sebagian melalui bandara," jelasnya.

Menariknya, harga narkotika jenis sabu di wilayah Riau disebut jauh lebih murah dibandingkan di Jakarta, yakni hanya sekitar seperempat dari harga di ibu kota.

Kondisi ini membuat peredaran narkoba di daerah tersebut semakin marak dan mengkhawatirkan.

"Ini menjadi alarm bagi kita semua. Dengan harga yang sangat murah, penyebaran narkoba di Riau sangat luar biasa dan berpotensi merusak generasi muda," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, pihak kepolisian juga menekankan pentingnya keseimbangan antara penegakan hukum dan pemberian apresiasi.

Anggota yang berprestasi dalam pengungkapan kasus besar akan diberikan penghargaan, termasuk usulan pemberian pin emas dari Kapolri.

Salah satu pengungkapan terbaru yang menjadi sorotan adalah keberhasilan tim Satres Narkoba Polres Bengkalis dalam menggagalkan penyelundupan narkotika dari luar negeri. Dalam operasi tersebut, dua tersangka berhasil diamankan bersama barang bukti sebanyak 16.046 butir narkotika.

Jika berhasil beredar, barang tersebut diperkirakan memiliki nilai mencapai Rp31 miliar dan berpotensi merusak hampir 115 ribu jiwa.

"Kasus ini cukup spektakuler. Kita akan berikan apresiasi kepada tim yang berhasil mengungkap. Ini juga bentuk motivasi bagi anggota lain untuk terus bekerja maksimal," katanya.

Polda Riau juga menegaskan akan memperkuat koordinasi dengan kejaksaan untuk memastikan para pelaku mendapatkan hukuman maksimal.

Mengingat peran mereka sebagai pengedar dan penyelundup, ancaman hukuman yang dikenakan bisa berupa pidana mati atau penjara seumur hidup sesuai undang-undang yang berlaku.

"Kami akan dorong tuntutan maksimal. Ini kejahatan serius yang mengancam masa depan bangsa," tutupnya.