Fenomena “Asbuh” Bergeser, Balap Liar Remaja Warnai Subuh Ramadan di Pekanbaru

Ilustrasi-balap-liar.jpg
Ilustrasi balap liar (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

RIAU ONLINE, PEKANBARU — Tradisi asmara subuh atau yang dikenal dengan istilah asbuh di Kota Pekanbaru kini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya kegiatan tersebut identik dengan aktivitas berkumpul usai salat subuh di masjid, belakangan justru diwarnai aksi balap liar yang meresahkan masyarakat.

Sejumlah ruas jalan utama di Pekanbaru seperti Jalan Arifin Achmad, HR Soebrantas, hingga Jalan Paus Rumbai dilaporkan kerap menjadi lokasi para remaja melakukan kebut-kebutan, terutama setelah salat subuh dan menjelang waktu berbuka puasa.

Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Ketua Komisi I DPRD Kota Pekanbaru, Robin Eduar. Ia mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak selama bulan suci Ramadan guna mencegah keterlibatan dalam aktivitas berbahaya tersebut.

Menurut Robin, aksi balap liar tidak hanya meresahkan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal karena para pelaku kerap mengabaikan aspek keselamatan berkendara.

“Balapan liar ini sangat berbahaya. Mereka tidak menggunakan perlengkapan keselamatan yang lengkap. Kalau sampai terjatuh, akibatnya bisa sangat fatal,” ujarnya, Selasa 24 Februari 2026.


Ia menegaskan aksi kebut-kebutan di jalan umum tidak hanya membahayakan pelaku, tetapi juga pengguna jalan lain serta masyarakat yang ingin menjalankan ibadah Ramadan dengan aman dan nyaman.

Karena itu, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut mendorong aparat kepolisian untuk meningkatkan patroli rutin, khususnya pada jam-jam rawan.

“Aparat kepolisian harus terus meningkatkan patroli dan langsung membubarkan jika ada kumpulan balap liar. Jangan sampai ada korban baru kemudian bertindak,” tegasnya.

Selain penegakan hukum, Robin juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama dalam mencegah kenakalan remaja. Ia meminta orang tua lebih aktif memantau aktivitas anak, terutama setelah sahur maupun saat ngabuburit.

“Kami mengimbau orang tua benar-benar mengontrol anak-anaknya. Subuh mereka pergi ke mana, sore saat ngabuburit berkegiatan apa. Jangan sampai terlibat balap liar yang membahayakan diri sendiri dan orang lain,” pungkasnya.

Fenomena pergeseran makna asbuh ini pun menjadi perhatian bersama, mengingat Ramadan seharusnya menjadi momentum meningkatkan kegiatan positif, bukan justru diwarnai aktivitas yang mengancam keselamatan publik.