RIAU ONLINE, PEKANBARU - Suasana Ramadan tahun ini terasa lebih hangat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru. Melalui program layanan penitipan takjil, pihak lapas membuka ruang bagi keluarga warga binaan untuk berbagi hidangan berbuka puasa, sekaligus menitipkan doa dan kasih sayang kepada orang-orang tercinta yang tengah menjalani masa pembinaan.
Sejak hari pertama dibuka, layanan ini disambut antusias oleh keluarga warga binaan. Setiap sore, mulai pukul 15.30 hingga 17.00 WIB, Senin hingga Sabtu selama bulan Ramadan.
Sejumlah keluarga tampak berdatangan dengan membawa aneka takjil, mulai dari kolak, kurma, kue tradisional, hingga minuman segar untuk berbuka puasa.
Bagi banyak keluarga, momen ini bukan sekadar mengantar makanan. Lebih dari itu, penitipan takjil menjadi simbol perhatian dan dukungan moral agar warga binaan tetap kuat dan semangat menjalani proses pembinaan di dalam lapas.
Kehadiran program ini pun menghadirkan suasana Ramadan yang lebih bermakna di balik tembok pemasyarakatan.
Setiap makanan dan minuman yang dititipkan tidak serta-merta langsung diberikan. Seluruh takjil terlebih dahulu melalui proses pemeriksaan ketat oleh petugas, sesuai standar operasional prosedur pengamanan barang masuk.
Pemeriksaan dilakukan secara teliti dan profesional guna memastikan keamanan serta ketertiban tetap terjaga. Setelah dinyatakan aman dan sesuai ketentuan, takjil didata dan selanjutnya didistribusikan kepada warga binaan untuk dinikmati saat waktu berbuka tiba.
Kepala Lapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto, menegaskan bahwa program penitipan takjil merupakan bagian dari komitmen lapas dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik yang profesional dan berorientasi pada nilai kemanusiaan.
"Layanan penitipan takjil ini kami hadirkan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, khususnya keluarga warga binaan, selama bulan suci Ramadan," ujar Yuniarto, Selasa, 24 Februari 2026.
"Kami ingin memastikan bahwa meskipun berada di dalam Lapas, warga binaan tetap dapat merasakan perhatian dan kasih sayang dari keluarga mereka," sambungnya
Yuniarto menambahkan bahwa aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program tersebut.
"Setiap takjil yang masuk wajib melalui pemeriksaan ketat sesuai prosedur yang berlaku. Ini penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban di dalam Lapas. Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik tanpa mengabaikan faktor pengamanan," tegasnya.
Menurut Yuniarto, program ini bukan hanya soal berbagi makanan berbuka, tetapi juga tentang membangun ikatan emosional yang kuat antara warga binaan dan keluarga.
Melalui layanan ini, ia berharap warga binaan dapat merasakan suasana Ramadan yang lebih bermakna.
"Perhatian dari keluarga diharapkan mampu meningkatkan semangat mereka dalam mengikuti proses pembinaan serta mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke tengah masyarakat," tambahnya.
Dengan adanya layanan penitipan takjil ini, Ramadan di Lapas Kelas IIA Pekanbaru tak lagi sekadar rutinitas ibadah di balik jeruji.
"Ini menjadi momentum mempererat silaturahmi, menumbuhkan harapan, serta menguatkan komitmen pembinaan yang lebih humanis dan bermartabat," tutupnya.

