RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyebut dirinya sebagai ‘Bapak Gajah’ meradang usai seekor gajah jantan berusia sekitar 40 tahun mati dibunuh pemburu liar di Kabupaten Pelalawan.
Pernyataan Irjen Herry tersebut sontak menuai perhatian publik. Sejumlah warganet turut mengomentari pernyataan Irjen Herry tersebut yang dimuat dalam pemberitaan Kompas.com, dan dimuat akun Facebook.
Sejumlah warganet mempertanyakan konsistensi sikap aparat dalam melindungi satwa dilindungi, terutama terkait persoalan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit yang kerap disebut-sebut sebagai salah satu penyebab menyusutnya habitat gajah di Riau.
“Bagaimana dengan habitat gajah sendiri Pak, ada buah sawit. Bapak berani lawan CEO sawit?” tulis akun Ivan*** dalam kolom komentar.
Komentar lain juga menyinggung besarnya persentase lahan sawit di Riau.
"Riau ini provinsi dengan persentase sawit 45 persen terbesar, pasti Kapolda juga terlibat pembangunan sawit tersebut," sahut akun Adit***.
Tak sedikit pula yang menyampaikan sindiran keras. “Preet, gajah mati mereka seolah paling berperan melindungi dan merasa paling baik, tapi mereka lupa izin perkebunan tetap lancar," tulis Haer***.
Sementara akun mit*** menilai kematian gajah tak lepas dari persoalan pembukaan lahan.
"Bagaimana gak mati pak, tempat tinggalnya dibuka untuk lahan sawit, tulisnya.
Beberapa komentar bahkan menyerempet isu politik dan menuding pernyataan tersebut sebagai bentuk pencitraan.
"Mulai angkat telor, karena ketua umum PSI anak Jokowi dan biar jabatan mulus," tulis Ri***.
Ada pula yang secara gamblang menyebut pernyataan itu sebagai upaya mencari simpati publik.
"Nyari simpati, Kapolda," tulis Rah***.
Kritik paling banyak mengarah pada isu perlindungan habitat.
"Gajah dibunuh marah besar, giliran habitatnya jadi lahan sawit diam saja," tulis aj***.
Akun lainnya bahkan menilai pernyataan tersebut sekadar retorika.
"Yang penting ngomong, tindak nanti dulu,” tulis An***. “Bacod doang, kalau peduli satwa lindungi juga habitatnya,” ujar ab***.
"Modus sok melindungi gajah, padahal pelindung pembabat hutan," tulis Ca***.
Beragam komentar tersebut memperlihatkan tingginya sensitivitas publik terhadap isu lingkungan dan perlindungan satwa liar di Riau.
Gajah Sumatera merupakan satwa yang dilindungi dan populasinya terus menurun akibat perburuan serta penyusutan habitat. Kasus kematian gajah di Pelalawan ini pun menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.
Irjen Herry sebelumnya menyatakan pihaknya akan mengusut tuntas kasus perburuan liar tersebut dan memburu para pelaku. Ia menegaskan tidak akan mentolerir tindakan yang mengancam satwa dilindungi.
Namun di sisi lain, reaksi warganet menunjukkan bahwa publik menuntut lebih dari sekadar pernyataan emosional.
Mereka berharap adanya langkah konkret dan konsisten, tidak hanya terhadap pelaku penembakan, tetapi juga dalam upaya menjaga kelestarian habitat gajah secara menyeluruh.

