AMSI Diskusi Santai Soal Serapan Naker di Industri Kehutanan Bersama APHI Riau

AMSI-Diskusi-Santai-Soal-Serapan-Naker-di-Industri-Kehutanan-Bersama-APHI-Riau.jpg
Diskusi santai AMSI bersama APHI Riau di Pekanbaru, Senin 29 Desember 2025. (Winda Turnip/Riau Online)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Provinsi Riau menggelar diskusi santai bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Wilayah Riau, di Kota Pekanbaru, pada Senin 29 Desember 2025.  

Diskusi ini mengangkat tema "Harapan atau Ilusi: Menelisik Serapan Tenaga Kerja di Industri Kehutanan Riau". Hadir dalam agenda ini, Ketua APHI Riau, Muller Tampubolon, Pekerja Perempuan bidang kehutanan, Dewi Rahmawati Saputri dan anggota lainnya, serta Ketua AMSI Riau, Firman Agus beserta sejumlah anggota AMSI Riau. 

Mengenai penyerapan tenaga kerja di bidang industri kehutanan Riau, Ketua APHI Riau Muller mengatakan ada 50 perusahaan yang tergabung dalam organisasinya. Dimana, dalam perusahaan tersebut total terdapat 55-58 ribu pekerja pada tahun 2025.

Ia menjelaskan, APHI Riau sangat memaksimalkan tenaga kerja lokal baik dibidang pembibitan, penanaman dan pemeliharaan hingga pemanenan serta pengangkutan.

"Hampir semua pimpinan perusahaan juga adalah orang Riau," ujarnya.


Menurutnya, perusahaan yang tergabung dalam APHI Riau juga mendukung kesetaraan gender dalam kepemimpinan perusahaan. Satu program yang sudah dicanangkan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menargetkan 30 persen perempuan duduk di level manager dan wakil manager pada 2030 mendatang. 

Lanjutnya, total kawasan hutan yang dikelola oleh APHI Riau berkisar 1,7 juta hektare. Terbagi atas hutan tanaman industri (HTI) 1,5 juta ha, restorasi 150 ribu ha, dan hutan alam 90 ribu ha. 

Pengelolaan hutan ini dilakukan dengan memegang prinsip 3P (Planet, people, profit). Dimana, prinsip tersebut berarti bahwa perusahaan secara serius menjaga kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan lingkungan, membuka lapangan pekerjaan dan tetap menjadi sumber devisa untuk negara.

Ia mencatat, investasi yang dihasilkan dari industri hutan ini mencapai Rp3,3 triliun per tahun.

"40 persen diantaranya adalah gaji karyawan, maka ada Rp1,2 triliun per tahun uang beredar di Provinsi Riau atau Rp100 miliar per bulan," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perusahaan juga diberikan tanggung jawab sosial untuk mendukung masyarakat disekitar wilayah operasional, baik dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial budaya, agama serta pemberdayaan masyarakat.