GMNI Serukan Mahasiswa Turun Tangan, Pulihkan Psikologis Anak Korban Bencana Sumatera

Sekretaris-DPC-PA-GMNI-Humbahas-Ganda-M.-Sihite.jpg
Sekretaris DPC PA GMNI Humbahas, Ganda M. Sihite (Dok. GMNI)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ingin memulihkan psikologis anak terdampak bencana banjir bandang di Aceh, Sumut dan Sumatera Barat.

Melihat kerusakan fisik dan kehilangan materi, dampak paling serius kini dirasakan oleh ratusan anak. Tak sedikit yang mengalami tekanan psikologis dan trauma pascabencana.

Di tengah situasi tersebut, DPC Persatuan Alumni GMNI (PA GMNI) Humbang Hasundutan menyerukan langkah cepat dan terukur untuk pemulihan psikologis anak-anak korban bencana. 

Organisasi itu mengajak seluruh perguruan tinggi di Sumatera Utara untuk segera menurunkan mahasiswa sebagai relawan kemanusiaan, khususnya untuk memberikan trauma healing dan pendampingan psikososial.

Sekretaris DPC PA GMNI Humbahas, Ganda M. Sihite, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi penonton saat masyarakat berada dalam situasi darurat.

"Kampus tidak boleh hanya mengamati dari kejauhan. Pengiriman mahasiswa relawan bukan hanya bentuk pengabdian, tetapi juga bagian penting dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi," tegas Ganda M. Sihite, Minggu, 7 Desember 2025.

"Bencana adalah ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana ilmu, kemanusiaan, dan kepekaan sosial menjadi satu tarikan napas," tambahnya.

Menurutnya, mahasiswa dengan idealisme, kapasitas intelektual, serta energi muda bisa menjadi kekuatan sosial yang mempercepat pemulihan masyarakat.

Ganda juga menilai bahwa penanganan bencana di Sumut tidak boleh terhambat oleh proses birokrasi panjang pemerintah pusat.


"Respons pemerintah pusat seringkali terkesan seremonial, penuh simbol dan pernyataan, tetapi lambat dalam tindakan konkret di lapangan," kritiknya.

"Karena itu, daerah dan masyarakat sipil tidak boleh menunggu. Kolaborasi lokal antara kampus, alumni, masyarakat, organisasi kemanusiaan dan pemerintah daerah bisa jauh lebih cepat dan efektif tanpa menunggu intervensi pusat," lanjutnya.

Ia menyebut banyak kunjungan pejabat pusat justru berakhir sebagai gimmick politik tanpa tindak lanjut signifikan.

DPC PA GMNI Humbahas menaruh perhatian khusus pada kondisi psikologis anak-anak korban bencana. Banyak dari mereka mengalami ketakutan mendalam, kehilangan rasa aman, bahkan ada yang kehilangan anggota keluarga.

"Trauma anak-anak bukan sekadar persoalan emosional. Ini ancaman jangka panjang bagi masa depan mereka. Jika tidak ditangani cepat, dampaknya bisa bertahan bertahun-tahun," ujar Ganda.

Pihaknya mendesak perguruan tinggi, khususnya dengan fakultas Psikologi, Pendidikan, Keperawatan, Kesehatan, dan Kedokteran, untuk mengorganisir relawan mahasiswa dalam misi trauma healing terstruktur dan berbasis keilmuan.

"Mahasiswa memiliki peran strategis untuk melakukan pendampingan psikososial, bermain, bercerita, dan membangun ruang aman bagi anak-anak," tambahnya.

DPC PA GMNI Humbahas juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam percepatan pemulihan pascabencana.

"Kekuatan terbesar ada pada kolaborasi: kampus dengan sumber daya intelektual, alumni dengan jaringan, masyarakat dengan pengetahuan lokal, serta pemerintah daerah dengan kewenangan koordinasi," lanjut Ganda.

Pihaknya menyatakan siap menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat di Humbang Hasundutan dan wilayah bencana lainnya.

"Sinergi ini kita gerakkan tanpa harus menunggu komando dari pusat. Dari daerah justru gerakan kemanusiaan seringkali lebih cepat, responsif, dan peka pada kebutuhan warga," katanya.

Ganda menyerukan gerakan kemanusiaan bersama. "Jangan menunggu. Jangan berharap pada gimmick. Mari bergerak bersama. Turunkan mahasiswa, bangun relawan, dan hadir untuk rakyat."

"Jangan biarkan masyarakat berjalan sendiri di masa sulit ini. Kehadiran mahasiswa bukan hanya menyelamatkan hari ini, tetapi memastikan masa depan psikologis yang lebih sehat bagi anak-anak korban bencana," tutupnya.