RIAU ONLINE, PEKANBARU – Tanggal 5 Januari 1949, tercatat dengan darah dalam sejarah Rengat, ibukota Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Ketika pesawat-pesawat Belanda meraung di langit dan pasukan khusus terjun payung mendarat, mereka tidak hanya melumpuhkan perlawanan militer, tetapi juga menargetkan simbol kedaulatan Republik Indonesia.
Di tengah pembantaian massal yang menewaskan 2.600 warga sipil, satu di antaranya Bupati Toeloes, yang jadi korban utama. Selama ini, ia lebih sering dikenang publik hanya sebagai ayah kandung penyair kawakan Chairil Anwar. Namun, kesaksian dari tragedi Rengat membuktikan bahwa Toeloes adalah seorang pemimpin yang rela mempertaruhkan nyawa demi keyakinannya pada hukum perang dan martabat sipil.
Serangan Belanda ke Rengat pada pagi hari 5 Januari 1949, melalui jalur udara, darat, dan Sungai Indragiri, membuat Letnan Himron Saheman dan pasukan kompinya berjuang mati-matian. Namun, kekuatan yang tidak seimbang membuat Kota Rengat akhirnya jatuh.
Di tengah kekacauan itu, Bupati Toeloes, selaku kepala pemerintahan sipil, menerima pesan darurat di kantornya dan segera pulang menuju rumah dinasnya di tepi Sungai Indragiri.
Di sana, Letnan Darmawi Ahmad mengajaknya untuk segera melarikan diri ke hutan, tetapi Toeloes menolak dengan tegas. Nani Tureja Toeloes, anak kandung Bupati Toeloes, juga adik tiri Chairil Anwar, yang saat itu berusia 11 tahun, menirukan pernyataan tegas ayahnya:
“Papa dengan tegas mengatakan kepada Letnan Darmawi Ahmad, kalau ia tidak akan lari sebab sudah diatur dalam perjanjian konferensi Jenewa, Swiss, kalau sipil tidak boleh ditembak dalam perang. Silakan Anda lari, sebab Anda tentara bisa ditembak sedangkan saya adalah sipil,” ujar Nani Tureja Toeloes, anak kandung Bupati Toeloes, juga adik tiri Chairil Anwar, mencontohkan kalimat disampaikan ayahnya.
Keputusan Toeloes untuk tetap bertahan, mengandalkan perjanjian internasional yang melindungi warga sipil, menunjukkan komitmen teguhnya pada hukum, meskipun ia tahu risikonya.
Keyakinan Bupati Toeloes terhadap etika perang ternyata dikhianati oleh kekejaman pasukan Belanda. Setibanya di rumah dinas, ia dan Sekretaris Daerah (Sekda) Yohanes Simatupang ditangkap oleh pasukan KNIL.
Pembantaian itu dilakukan serentak di halaman depan rumah dinas bupati. Toeloes ditembak dari depan, sedangkan Yohannes dari belakang.
Tragedi ini bahkan disaksikan oleh anak kandung Sekda, Willy Manaek Simatupang, yang dipanggil dan disuruh menyaksikan eksekusi tersebut.
“Kalau papamu (Bupati Toeloes) ditembak dari arah belakang oleh tiga tentara belanda, kemudian tersungkur. Sedangkan ayah saya ditembak dari arah depan di bagian kepala. Jenazahnya kemudian dilempar ke Sungai Indragiri,” kata Nani Tureja menirukan perkataan anak Sekda Simatupang saat itu Nani berusia 11 tahun, ketika itu, dikutip dari politikriau.com.
Sementara itu, Chairil Anwar, sudah menetap di Batavia, Jakarta kini, sejak 1940, setelah kedua orang tuanya bercerai. Hanya beberapa bulan setelah ayahnya meninggal, Chairil pun tutup usia.
Kematian tragis Bupati Toeloes pada 5 Januari 1949 menjadi bagian tak terpisahkan dari biografi sang penyair.

