Oleh: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Ketika Jepang menguasai Sumatera pada masa Perang Dunia II, ambisi mereka tak hanya soal menguasai wilayah, tapi juga menghubungkan barat dan timur pulau dengan rel kereta api demi memudahkan mobilisasi sumber daya.
Pembangunan jaringan rel kereta api Pekanbaru ke Muaro Sijunjung menjadi proyek ambisius Jepang, yang menelan banyak korban kala itu.
Pada masa kolonial Belanda, kota terbesar di pesisir barat Pulau Sumatra adalah Padang, yang berkembang pesat semenjak akhir abad ke-19, ketika ditemukannya kandungan batubara dengan jumlah yang sangat besar di Sawahlunto.
Penemuan itu memicu perkembangan dan pembangunan besar-besaran di wilayah tersebut, dengan dibangunnya jaringan jalan kereta api, baik dari Sawahlunto ke Padang, maupun dari pedalaman di Suliki-Payakumbuh ke Padang, melewati Bukittinggi serta Padang Panjang. Demikian pula pembangunan pabrik semen tertua di Indonesia di Indarung.
Namun secara geografis, Selat Malaka yang berada di bagian timur Sumatera, justru yang menjadi urat nadi perekonomian di Asia Tenggara, karena berdekatan dengan smenanjung Malaya dan Singapura yang waktu itu dikuasai oleh Inggris. Apalagi, semenjak zaman dulu Singapura sudah menjadi pertemuan para pedagang dan saudagar di wilayah Asia Tenggara, sehingga posisinya sangat vital.
Di sisi lain, jarak dari Sumatera menuju Singapura tidak jauh. Hanya menyebrangi selat Malaka. Selain itu, pedalaman Sumatera mengalirkan beberapa sungai besar yang bermuara di Selat Malaka.
Awalnya, Jepang ingin membangun jalur kereta api untuk membawa batubara serta produk lainnya, termasuk tentu saja memobilisasi para prajuritnya sendiri.
Rencana-rencana ini sebelumnya digagas oleh bangsawan Swiss Hans Caspar Bluntschli yang tinggal di pedalaman Sumatra. Dari sebuah kampung yang dulu disebut dengan Tambesi di sekitar Logas, ia menyusun rencana membangun jalur dari Pekanheran hingga Selat Malaka melalui Sungai Indragiri atau Sungai Siak.
Begitu juga dengan rencana memanfaatkan jalur Sungai Siak. Sedangkan titik terdekat dari arah Sumatra Barat, dipatok adalah di Muaro Sijunjung, karena pada saat itu telah ada sambungan jaringan kereta api dari Sawahlunto. Tapi proyek itu tak pernah dilirik investor.
Alasannya klasik, biaya tinggi dan tantangan alam berupa rawa dan tanah lunak. Selain itu, dibutuhkan peralatan serta teknologi modern karena lokasi pembangunannya berada di daerah dengan tanah lunak berawa, yang sudah dibangun. Di sisi lain, ekonomi dunia kala itu masih lesu diterpa Malaise.
Namun, ketika Jepang masuk dan menduduki Sumatra, mereka mempelajari ulang rencana tersebut. Tanpa banyak pertimbangan dan seolah tidak peduli dengan segala tantangan, mereka memutuskan untuk membangun.
Modal utama Jepang adalah memanfaatkan tenaga manusia sebanyak mungkin. Sebelum menguasai Indonesia, mereka telah mengidentifikasi negara ini sebagai negeri yang kaya sumber daya manusia, tidak berpendidikan, mudah dimobilisasi, dan berbiaya murah, bahkan bisa dipaksa tanpa dibayar sama sekali.
Militer Jepang akhirnya mulai mengirimkan ribuan tenaga kerja dari Jawa, umumnya pemuda, untuk bekerja membangun jaringan rel kereta api tersebut, pada akhir 1942.
Awalnya ketika Jepang masih Berjaya di arena peperangan, para pekerja itu masih dibayar dan diberi cukup makanan. Akan tetapi perlahan-lahan, setelah Jepang banyak mengalami kekalahan di berbagai front pertempuran, tenaga kerja ini mulai tidak dibayar dan jumlah ransum makanan dikurangi.
Ketika Jepang masih berjaya di arena peperangan, para pekerja itu masih dibayar dan diberi cukup makanan. Tapi setelah Jepang mengalami banyak kekalahan di berbagai pertempuran, para tenaga kerja perlahan mulai tidak dibayar, jumlah ransum dikurangi, bahkan tidak diberi makanan sama sekali.
Sementara tugaskan mereka bukan pekerjaan ringan, membutuhkan berbagai peralatan berat, namun Jepang memerintahkan semua dikerjakan secara manual dengan peralatan yang sangat sederhana, bahkan primitif.
Hanya ada tangan, kaki, serta bahu mereka sendiri pekerjaan dilakukan di bawah komando Jepang dan para penjaga Korea yang ikut dalam barisan tentara Jepang.
Kejam, tidak berperi kemanusiaan, dan memaksa semua harus diselesaikan dengan cepat. Lapar, sakit, dan penderitaan lainnya, bukan sesuatu yang mesti dipikirkan oleh bala tentara Jepang. Alhasil, jumlah korban pekerja paksa yang kerap disebut Romusha mencapai puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang.

