Pilu di Balik Kamp 14 dan 14A, Saksi Kekejaman Jepang di Pedalaman Kuansing

Desa-Petai-Kuansing.jpg
Desa Petai, Kuansing (Osvian Putra)

RIAU ONLINE, PEKANBARU -  Di pedalaman Desa Petai, di tepian Sungai Tapi, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, tersimpan jejak kelam masa penjajahan Jepang yang nyaris terlupakan. Di lokasi itu pernah berdiri tambang batu bara yang menjadi sumber energi penting bagi balatentara Jepang selama Perang Dunia II.

Batu bara dari tambang ini digunakan untuk mendukung kepentingan militer Jepang, mulai dari pembangkit listrik hingga bahan bakar kereta api. Dalam rangka mendukung operasi militer di Asia Tenggara, Jepang membangun jalur kereta api dari Logas ke Kotobaru. Salah satu jalur penghubungnya adalah lori dari tepi Sungai Tapi menuju jalur utama tersebut.

Namun di balik proyek ambisius ini, terdapat kisah tragis ribuan Romusha atau pekerja paksa dari berbagai daerah di Indonesia, dan tawanan perang dari berbagai negara sekutu, seperti Belanda, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Mereka dipaksa bekerja tanpa perlindungan dan tanpa hak, di bawah pengawasan militer Jepang yang brutal.

Penulis sejarah Henk Hovinga dalam bukunya The Sumatra Railroad, serta Jamie Farrell dalam Pekanbaroe Death Railway, mengungkap bahwa ribuan nyawa melayang selama pembangunan jalur kereta ini. 


Hingga kini, bekas kamp pekerja paksa yang dikenal sebagai Kamp 14 dan 14A masih menyimpan sisa-sisa tragedi tersebut. Di hutan yang terletak setelah Kampung Koto Lamo, desa tua yang kini telah lama ditinggalkan, masih ditemukan jenazah belasan tawanan perang yang tak pernah dipulangkan. 

Berdasarkan catatan Farrel dan Hovinga, setidaknya terdapat jenazah 5 orang Belanda, 9 orang Inggris, 2 orang Australia, dan 1 orang warga Selandia Baru yang terkubur tanpa nisan.

Lokasi yang kini telah berubah menjadi kawasan perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) itu masih menjadi saksi bisu atas kekejaman perang dan penderitaan yang tak tercatat dalam sejarah resmi.