Pesan Kapolda Riau di Tengah Wisuda UIN Suska: Alam Dijaga, Hidup Terpelihara

Kapolda-Riau-di-wisuda-UIN-Suska.jpg
Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, saat menyampaikan orasi ilmiah dalam Wisuda UIN Suska, Kamis, 24 Juli 2025. (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, hadir sebagai narasumber dalam orasi ilmiah pada sidang senat terbuka di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau, Kamis, 24 Juli 2025.

Kegiatan ini digelar dalam rangka wisuda Program Doktor ke-66, Program Magister ke-98, serta Program Sarjana dan Diploma ke-118 untuk Periode V Tahun Akademik 2025/2026.

Dalam pidato ilmiahnya yang bertajuk “Etika Lingkungan dan Masa Depan Ekosistem dan Ekonomi”, Irjen Herry menyampaikan keprihatinannya atas krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan ekologi yang semakin nyata di hadapan masyarakat global, termasuk Indonesia.

"Saya hadir di sini bukan semata sebagai aparat negara, melainkan juga sebagai bagian dari masyarakat yang merasa ikut bertanggung jawab atas masa depan bumi ini,” ungkap Irjen Herry di hadapan para wisudawan.

Menurutnya, etika lingkungan adalah fondasi penting dalam membangun masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan. 

"Etika adalah landasan berpikir, bertindak, dan membangun yang dimiliki oleh kita sebagai manusia," jelasnya.


Irjen Herry juga mengingatkan bahwa pemikiran tentang etika lingkungan bukan hal baru. Ia menyebut nama Aldo Leopold, tokoh lingkungan asal Amerika, yang melalui bukunya A Sand County Almanac (1949), menyampaikan pandangan tentang hubungan manusia dengan alam.

Namun menurutnya, ajaran tentang pelestarian lingkungan jauh lebih dahulu telah disampaikan dalam Islam. Ia mengutip Surat Al-A’raf ayat 56:

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya," tegas Irjen Herry, secara literal menggambarkan bahwa merusak alam adalah bentuk pelanggaran terhadap tatanan Tuhan.

Tak hanya dari agama, Irjen Herry juga mengangkat nilai-nilai lokal dari budaya Melayu yang sarat dengan pesan-pesan ekologis. Ia menyebut salah satu ajaran dalam Tujuh Ajar Melayu.

"Alam dijaga, hidup terpelihara, jangan ditebang apalagi merambah. Air dijaga, jangan dirusak, gunung tak digunakan, hutan tak diabaikan," ungkap Herry.

Baginya, nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal telah sejak lama mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Orasi ilmiah ini ditutup dengan ajakan kepada para wisudawan untuk menjadi agen perubahan dan penjaga bumi.

"Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk membentuk masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Dan itu semua harus dimulai dari etika,” pungkasnya.