Komunitas Ojol Pekanbaru dan Palembang Dukung Skema Potongan Komisi 20 Persen

Ilustrasi-Ojol.jpg
Ilustrasi Ojol (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Dukungan terhadap kebijakan pemotongan komisi sebesar 20 persen dari aplikator transportasi daring terus menguat di berbagai daerah Indonesia. 

Suara dukungan juga datang dari dua kota di luar Pulau Jawa, yaitu Palembang dan Pekanbaru. Para pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam berbagai komunitas menyatakan sikap tegas mereka mendukung skema komisi tersebut. 

Mereka menilai kebijakan ini wajar, stabil, dan justru memberikan banyak manfaat dalam mendukung keberlangsungan kerja mereka sehari-hari.

Ketua Komunitas Driver Online Punggawa Palembang, Peno Busri, menegaskan bahwa skema komisi sebesar 20 persen bukan masalah bagi para pengemudi ojol. 

Menurutnya, selama aplikator terus menyediakan dukungan nyata di lapangan, potongan tersebut bisa diterima dengan lapang dada.

"Potongan sebesar itu tidak menjadi masalah berarti selama aplikator tetap mendukung kinerja kami di lapangan. Justru kami melihat aplikator telah memberikan banyak fasilitas yang meringankan beban kami," ujar Peno, Rabu, 23 Juli 2025.

Sikap serupa juga disampaikan oleh Komunitas SGC Palembang, yang beranggotakan puluhan driver taksi online. 

Ketua komunitas, Zaki, mengatakan bahwa potongan 20 persen sudah menjadi bagian dari sistem yang mereka jalani, dan bukan hal baru.


"Meskipun terlihat besar, tapi banyak keuntungan yang kami dapatkan seperti asuransi kecelakaan, call center 24 jam, hingga diskon-diskon untuk servis kendaraan dan pembelian BBM. Itu semua sangat membantu kelancaran kerja kami sehari-hari," jelas Zaki.

Selain dua komunitas tersebut, empat komunitas besar lainnya di Palembang yakni Komunitas Spartans Vhalembank, Komunitas AKOR, Komunitas Gojek Grab Garuda (G3), dan Komunitas COD turut menyuarakan pandangan yang senada. 

Mereka menilai skema potongan saat ini sudah berjalan dalam koridor yang adil dan proporsional.

Dari Kota Pekanbaru, dukungan terhadap kebijakan potongan komisi juga disampaikan oleh enam komunitas pengemudi ojol yang tersebar di berbagai wilayah kota. 

Ketua Komunitas The Kalong, Raka, menyatakan bahwa tuntutan penghapusan potongan komisi 20 persen tidak merepresentasikan aspirasi mayoritas driver aktif.

"Potongan saat ini masih proporsional karena kami juga mendapatkan fasilitas penting yang mendukung kerja kami sehari-hari. Fasilitas-fasilitas tersebut tidak dapat kami abaikan karena sangat membantu menjaga kelancaran dan keamanan kami dalam bekerja," jelas Raka.

Sementara itu, Ketua Komunitas Team Garuda Pekanbaru, David Sanjaya, menyampaikan harapan agar pemerintah bersikap bijak dalam menyikapi desakan-desakan sepihak yang tidak berasal dari pengemudi aktif.

"Kami berharap Kementerian Perhubungan dapat mendengarkan aspirasi dari driver yang masih aktif di lapangan. Jangan sampai suara kami tenggelam oleh pihak-pihak yang sudah tidak lagi berprofesi sebagai ojol. Hal itu bisa menimbulkan kegaduhan dan mengganggu ketenangan kami dalam bekerja," ungkap David.

Perwakilan dari komunitas-komunitas ojol baik di Palembang maupun Pekanbaru juga menyatakan kesiapan mereka untuk berdialog secara langsung dengan pihak aplikator maupun pemerintah. 

Mereka berharap regulasi ke depan benar-benar berpihak pada keberlanjutan profesi driver online dan mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan aplikator dan mitra pengemudi.

"Kami terbuka untuk berdialog kapan saja. Yang penting adalah ada ruang untuk mendengarkan dan menghargai suara kami yang setiap hari berada di jalanan. Kami ingin aturan yang adil dan tidak dibuat atas dasar desakan yang tidak mewakili kondisi nyata di lapangan," jelas Zaki.

“Ke depan, kami ingin ekosistem transportasi digital ini tetap sehat dan berkelanjutan, bukan hanya untuk pengemudi tapi juga untuk pelanggan dan aplikator,” tutup Raka dari The Kalong Pekanbaru.