Oleh: Aden Aulia Rahma dan Selly Ranto Noermayanti, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNISKA Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Dalam masyarakat yang mengklaim diri semakin modern dan terbuka, perempuan justru dihadapkan pada standar kesuksesan yang semakin kompleks dan tidak seimbang. Perempuan hari ini didorong untuk berpendidikan tinggi, berkarier, dan mandiri secara ekonomi, namun pada saat yang sama tetap dituntut untuk menjalankan peran domestik secara sempurna.
Paradoks inilah yang membentuk apa yang kerap disebut sebagai beban sosial ganda, sebuah kondisi yang sering dianggap wajar, bahkan dibanggakan, tetapi jarang dikritisi secara serius dalam ruang publik.
Beban sosial ganda bukan sekadar persoalan individu yang “tidak mampu mengatur waktu” atau “kurang tangguh menghadapi tantangan”. Ia merupakan hasil dari konstruksi sosial yang dibentuk melalui proses komunikasi yang panjang: dari bahasa keluarga, norma budaya, hingga representasi media.
Perempuan tidak hanya dinilai dari capaian profesionalnya, tetapi juga dari bagaimana ia menjalankan peran sebagai istri, ibu, dan pengelola rumah tangga. Ketika berhasil di ranah publik tetapi dianggap kurang optimal di ranah domestik, perempuan tetap dinilai belum “utuh” sebagai sosok yang sukses.
Realitas sosial ini mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan yang memilih fokus berkarier kerap mendapat pertanyaan tentang rencana menikah atau kesiapan menjadi ibu. Sebaliknya, perempuan yang memutuskan berhenti bekerja demi keluarga sering dipandang menyia-nyiakan pendidikan dan potensinya.
Standar kesuksesan bagi perempuan menjadi kontradiktif: apa pun pilihannya, selalu ada celah untuk dinilai kurang. Dalam konteks komunikasi sosial, situasi ini menunjukkan bahwa kesuksesan perempuan tidak pernah didefinisikan secara netral, melainkan sarat bias gender. Ketimpangan ini semakin menguat ketika dibandingkan dengan standar kesuksesan laki-laki.
Dalam banyak narasi sosial, laki-laki dinilai berhasil ketika mampu menjadi pencari nafkah utama atau memiliki posisi strategis di ruang publik. Peran domestik bagi laki-laki sering diposisikan sebagai tambahan, bukan kewajiban utama.
Ketika seorang laki-laki membantu pekerjaan rumah tangga, ia kerap dipuji. Namun ketika perempuan melakukan hal yang sama, ia dianggap sekadar menjalankan kodrat. Perbedaan perlakuan ini menunjukkan bahwa standar kesuksesan dibangun di atas relasi kuasa yang tidak setara.
Media massa dan media digital turut berperan besar dalam melanggengkan beban sosial ganda tersebut. Representasi perempuan dalam berbagai platform sering menampilkan figur “perempuan hebat” yang mampu berkarier cemerlang, mengurus keluarga, tetap tampil ideal, dan selalu bahagia.
Narasi ini sekilas tampak memberdayakan, tetapi pada praktiknya justru menciptakan tekanan baru. Perempuan didorong untuk menjadi serba bisa tanpa ruang untuk lelah, gagal, atau meminta dukungan. Dalam perspektif komunikasi, romantisasi ini dapat dibaca sebagai bentuk kekerasan simbolik yang bekerja secara halus namun terus-menerus.
Di era media sosial, tekanan tersebut semakin intens. Budaya perbandingan hidup, pencapaian yang dipamerkan, serta narasi kesuksesan instan membentuk ekspektasi yang tidak realistis.
Perempuan tidak hanya membandingkan diri dengan orang di sekitarnya, tetapi juga dengan representasi ideal yang telah dikurasi sedemikian rupa. Akibatnya, muncul rasa bersalah kronis, baik karena merasa kurang produktif di ruang publik maupun merasa tidak cukup hadir di ruang domestik. Kelelahan mental dan emosional menjadi realitas yang jarang diakui, karena perempuan telah terbiasa menormalisasi kelelahan sebagai bagian dari tanggung jawabnya.
Yang lebih problematis, kerja domestik dan kerja emosional perempuan masih sering dipandang sebagai sesuatu yang alamiah dan tidak perlu diakui sebagai kerja. Mengasuh anak, mengelola rumah, menjaga relasi keluarga, dan memastikan stabilitas emosional sering dianggap sebagai “tugas perempuan” yang tidak membutuhkan apresiasi. Padahal, kerja-kerja tersebut menuntut energi, waktu, dan kapasitas emosional yang besar.
Ketika kerja ini tidak terlihat dan tidak dihitung, perempuan semakin terjebak dalam standar kesuksesan yang timpang: dituntut maksimal, tetapi minim pengakuan.
Dalam konteks ini, saya berpandangan bahwa masalah utama bukan terletak pada kemampuan perempuan untuk menjalankan berbagai peran, melainkan pada standar sosial yang tidak pernah dirancang secara adil.
Kesuksesan masih dimaknai dengan kacamata maskulin dan patriarkal, sementara perempuan dipaksa menyesuaikan diri tanpa perubahan signifikan pada struktur sosial yang ada. Selama standar tersebut tidak direvisi, perempuan akan terus berada dalam posisi harus membuktikan diri dua kali lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama.
Oleh karena itu, penting untuk mendorong perubahan makna kesuksesan yang lebih manusiawi dan kontekstual. Kesuksesan seharusnya tidak diukur dari kemampuan memenuhi semua ekspektasi sosial secara bersamaan, melainkan dari kemampuan individu menjalani hidup secara bermakna sesuai dengan konteks dan pilihannya.
Dalam perspektif komunikasi, perubahan ini dapat dimulai dari cara kita berbicara tentang perempuan, menilai pilihan hidup mereka, dan merepresentasikan peran gender di ruang publik.
Beban sosial ganda yang dialami perempuan bukanlah persoalan privat yang harus diselesaikan secara personal, melainkan isu sosial yang menuntut refleksi kolektif. Selama masyarakat masih mempertahankan standar kesuksesan yang bias dan tidak adil, perempuan akan terus berada dalam lingkaran tuntutan tanpa akhir.
Sudah saatnya ruang publik tidak hanya merayakan keberhasilan perempuan, tetapi juga mempertanyakan sistem yang membuat keberhasilan tersebut begitu mahal secara emosional dan sosial.

