Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Pertengahan tahun 1944, sebagian jalur kereta dari arah utara (Pakan Baroe) sudah mulai selesai dikerjakan. Sudah mulai tampak alur yang jelas dimulai dari tepian sungai Siak di Kamp 1 dan 2 terutama hingga daerah Kubang sekarang.
Akan tetapi sampai di kamp kampung Petas yang terletak di pinggir batang Kampar agak tersendat pembangunannya. Karena pada waktu itu pekerja yang terdiri dari para tentara tahanan perang dari Belanda dan sebagian berkebangsaan Australia serta Inggris baru saja sampai dan belum begitu paham dengan apa yang harus mereka kerjakan.
Akan tetapi karena mereka berada dibawah arahan korps teknik/zeni Jepang untuk menyelesaikan pembangunan rel kereta itu, mereka dipaksa untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang sesungguhnya sangat teknis itu. Ya, mereka disuruh membangun jembatan kereta api diatas permukaan sungai yang cukup lebar itu.
Masalahnya adalah, mereka tidak dilengkapi pengetahuan, pengalaman, peralatan serta bahan yang memadai untuk membangun jembatan itu. Mereka kebanyakan adalah tentara, tidak banyak yang mempunyai pengalaman teknis, kecuali urusan di dinas kemiliteran mereka masing-masing.
Maka dengan sebisanya karena di bawah perintah dan ancaman para penjaga mereka berusaha semaksimal mungkin mewujudkan jembatan itu.
Tentu saja bahan yang paling logis untuk membangun jembatan itu dari bahan kayu. Ya, tidak sulit menemukan berbagai jenis kayu di hutan lebat di rimba raya Sumatera saat itu. Memang hutan belaka.
Cuma, para pekerja ini tentu saja kurang begitu paham jenis kayu yang kuat dan tahan lama untuk kepentingan pembangunan jembatan ini. Jua, mereka kurang pengetahuan tentang bagaimana perlakuan terhadap kayu sebelum digunakan untuk membangun sesuatu.
Maka yang terjadi adalah, asal kayu gelondongan besar, dijadikan sebagai tiang. Asalkan panjang dijadikan sebagai penyangga. Padahal mestinya untuk tiang, selain besar tentu harus pula dipilih jenis kayu yang tahan air.
Begitu juga dengan misalnya kayu harus dijemur terlebih dahulu untuk dikeringkan sebelum bisa diolah dan dipergunakan. Banyak kayu yang sebenarnya masih terlalu muda, belum kering dan belum siap diolah sudah digunakan. Masalahnya Jepang selalu mendesak dengan target penyelesaian dalam waktu singkat.
Untungnya, pertengahan tahun itu masih musim panas, sehingga arus sungai menjadi lambat dan permukaan air rendah sehingga memudahkan pekerjaan. Namun, mudah dalam konteks ini bukan berarti gampang, karena semua pada dasarnya nyaris dilakukan secara manual dengan peralatan yang sederhana.
Yang diandalkan hanyalah tenaga manusia. Maka, pekerjaan-pekerjaan menebang kayu, memotong kayu, membelah kayu semuanya dilakukan dengan kapak atau gergaji sederhana.
Masalahnya, sebagian besar orang Eropa tidak paham dengan model gergaji Jepang yang akan “makan” ketika mundur. Sementara secara umum, gergaji biasanya akan “makan” ketika didorong maju.
Masalah lain, mengangkut kayu dari hutan, memotong lalu membawanya ke pinggir sungai. Butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Belum lagi ketika mulai memasang pancang.
Semua hanya mengandalkan fisik tanpa peralatan yang memadai. Selain fisik, masalah lain adalah seperti yang sudah diulas sebelumnya, para pekerja di pertengahan tahun 1944 ini kebanyakan sudah tidak mendapatkan asupan makanan yang memadai lagi.
Ketika pagi mereka hanya disuguhi bubur tepung tapioka tanpa rasa, tanpa diberi garam, gula, atau penyedap lainnya sama sekali. Ingat saja, lem tepung yang pernah kita pakai saat zaman SD.
Kira-kira seperti itu lah makan pagi nya ditambah dengan air teh. Siang, hanya dikasih minum. Lalu malam cari sendiri apa yang dapat lalu dimasak secara berkongsi. (bersambung)

