Penulis: Osvian Putra
RIAU ONLINE, PEKANBARU - Dalam mengerjakan proyek pembangunan jalur rel kereta api dari Pekanbaru ke Muaro Sijunjung, sebagian besar gerbang utama untuk penempatan sumber daya berada di ujung utara jalur, di tepian sungai Siak, Pekanbaru.
Pada awal masa pembangunan, Pekanbaru pada masa sebelumnya sudah eksis dengan sebutan Payung Sekaki di kampung Senapelan. Lalu ketika ditemukan sumber daya minyak di bagian utara sungai Siak, maka Belanda mulai mengusahakan eksploitasi dan eksplorasi.
Maka, sungai Siak bisa dikatakan menjadi urat nadi transportasi dari keramaian kawasan di selat Malaka menuju pedalaman Sumatra. Tentu saja sebelumnya di pesisir telah ada daerah-daerah yang lebih duluan maju karena lebih dekat ke selat Malaka serta Singapura yang menjadi pusat perekonomian kawasan.
Katakana saja misalnya bagan Siapi-api, Bengkalis dan Selat Panjang. Selain itu tentu saja Siak Sri Indrapura yang berlokasi jauh lebih ke dalam.
Di pinggir sungai Siak, sebelum kedatangan Jepang, Belanda telah mempunyai area yang digunakan untuk keperluan usaha perminyakan, semacam area kerja, gudang peralatan dan sejenisnya yang berlokasi di pinggir sungai sekitar Tanjung Rhu hingga pasar Lima Puluh sekarang.
Sedangkan kantor administrasinya berada di jalan Bangkinang yang sekarang telah beralih nama menjadi Jalan Ahmad Yani. Sepertinya ini adalah jalan raya tertua yang ada di Pekanbaru.
Di daerah Pasar Bawah sekarang dulunya memang sudah ada pelabuhan dan bahkan KPM (perusahaan pelayaran milik Belanda) telah mempunyai rute regular dari Pekanbaru-Siak-Bengkalis-Singapura. Maka di kawasan pelabuhan tersebut masih bisa kita lihat peninggalan kantor Kepala Pelabuhan (Havenmeester) serta Douane (Bea Cukai).
Pelabuhan itu kelak ketika Jepang masuk juga dijadikan pelabuhan utama untuk keperluan pembangunan jalur rel kereta api mereka, bahkan untuk itu Jepang memperkuat struktur dengan memasang pilar-pilar baja di sepanjang tepi dermaga agar kelar barang-barang keperluan jalur kereta api yang mereka perlukan dipastikan bisa dilayani oleh pelabuhan ini.
Hal ini sepertinya telah mereka perhitungkan sebelumnya (untuk memperkuat struktur dermaga) karena sebelumnya pelabuhan ini belum pernah digunakan untuk menampung kedatangan barang-barang logam-besi dengan jumlah yang sangat banyak dan berat.
Begitu pula, untuk menghindari kawasan sekitar dari rendaman banjir musiman ketika pasang naik di sepanjang aliran sungai Siak, maka mereka membangun tanggul untuk melindungi kawasan dari resiko terendam air ketika pasang datang.
Namun, saying saja, sekarang kawasan ini boleh dikatakan terbiar begitu saja, bahkan di antara bangunan-bangunan gudang yang ada, sebagiannya telah rata dengan tanah, dirobohkan untuk kepentingan (katanya) untuk membangun pusat wisata di pinggir sungai Siak. Wallahualam.

