Calon Komut dan Direksi Bank Riau Kepri Minim Pengalaman Syariah

Bank-Riau-Kepri.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

Liputan: TIM RIAUONLINE

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Sejak dilantik sebagai Gubernur Riau, Syamsuar, langsung tancap gas mewujudkan janji-janji politiknya.

Satu di antaranya adalah konversi Bank Riau Kepri dari konvensional menjadi Syariah. Diawali dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB), Senin, 22 April 2019, dengan mengesahkan status konversi tersebut.

Pemprov Riau sebagai pemegang saham terbesar, lalu membentuk Tim Panitia Seleksi (Pansel) diketuai langsung Asisten I Setdaprov Riau, Ahmad Syah Harrofie. Dari anggota tim tersebut, sama sekali tak ada unsur perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Waktu bergulir, Jumat, 17 Januari 2020, para pemegang saham memutuskan hasil kerja Tim Pansel mulai dari penetapan dua nama Komisaris Utama Yan Prana Jaya Indra Rasyid (Sekdaprov Riau) dan Indra (Plt Asisten II Setdaprov Riau).

Selain itu, Direktur Utama meninggalkan dua calon, dari internal Nizam Putih dan Andi Buchari, Denny Mulya Akbar dan Said Syamsuri, serta Muhammad Jazuli dan MA Suharto di posisi Direktur Dana dan Jasa.

Dari nama-nama diputuskan pemegang saham tersebut, RIAUONLINE.CO.ID lakukan penelusuran lacak rekam jejak berdasarkan pengalaman selama ini, apakah memiliki kemampuan profesional di perbankan syariah, seperti niat serta keinginan Gubernur Riau, Syamsuar, mewujudkan proses konversi dari konvensional menuju Syariah Bank Riau Kepri.

Hasilnya, untuk Komut, sama sekali tak memiliki rekam jejak di perbankan, apalagi kemampuan menguasai perbankan syaraih. Yan Prana dan Indra berlatar belakang lulusan FISIP serta FMIPA dengan segudang jabatan di birokrasi.

Demikian juga dengan Direktur Operasional, dari dua nama Denny Mulya Akbar dan Said Syamsuri, sama sekali tak pernah tunak bergelut dengan produk-produk syariah.

Padahal, saat seleksi dilakukan, ada nama-nama miliki kemampuan syariah, Tugiantoro. Namun, ia tak dipilih bersama Ikhwan, anak Kampar, dan Nusyirwan.

Sedangkan untuk Direktur Dana dan Jasa, dua nama, Muhammad Jazuli dan MA Suharto, hanya MA Suharto saja yang memiliki latar belakang serta kemampuan di perbankan syariah.

Jazuli dikenal sebagai sosok the rising star, karirnya melesat cepat hingga kini menduduki posisi Pimpinan Divisi Corsec belum setahun ini usai menjabat Pincab Utama.

Untungnya, posisi Direktur Utama, dari dua nama disahkan pemegang saham, Andi Buchari, sudah malang-melintang di papan atas perbankan syariah nasional dibandingkan Nizam Putih, hanya di Bank Riau Kepri konvensional saja. 

Menanggapi lacak rekam jejak tersebut, Ketua Komisi III DPRD Riau, Husaimi Hamidi, mengingatkan pemegang saham Bank Riau Kepri (BRK) harus jeli dalam menyusun susunan direksi, komisaris maupun struktur jabatan lainnya.

"BRK gencar ekspose peralihan dari bank konvensional menuju bank syariah. Makanya semua struktur harus diisi oleh orang-orang paham perbankan syariah," ungkap Husaimi Hamid, Rabu, 22 Januari 2020.

Ia menjelaskan, dari awal syariah, ia sudah mengingatkan, mengganti status dari konvensional ke Syariah bukan seperti balikkan telapak tangan.

"Syariah tidak ada istilah bunga. Nanti kalau tidak paham jadi direksi gimana? Makanya, yang jadi direksi maupun komisaris harus paham agama," kata Ketua Fraksi PPP, Nasdem dan Hanura ini.

Harusnya, sambung Politisi PPP ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus bisa menjelaskan apakah ada persyaratan tertentu untuk jabatan perbankan tersebut jika ingin beralih ke syariah.

"Nanti kita akan komunikasikan dengan OJK. Ada tidak persyaratan khusus untuk ini. Nanti dipilih pula yang tidak perlu paham syariah, kan susah juga. Sementara mereka sudah menetapkan kepindahan ini," tambahnya.

Sementara itu, Pengamat Perbankan Riau, Edyanus Herman Halim mengatakan, sudah seharusnya posisi-posisi kosong selama ini diisi oleh orang-orang profesional, dan fokus. Ini menjadi kunci utama membawa BRK lebih baik di masa transisi.

Selain itu, profesional dan fokus diharapkan akan membawa BRK lebih baik di tengan persaingan bisnis perbankan yang semakin ketat. Butuh energi untuk menjadi penggerak.

"Jangan jadikan Bank itu tempat pensiun. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga," kritiknya.