Amerika Semakin Takut Usai Perusahaan China Sogok Politisi Australia

Demo-Anti-China-di-Manila-Filipina.jpg
(REUTERS/KHAM)

RIAU ONLINE - Pengaruh China dari tahun ke tahun semakin mengkhawatirkan. Tak hanya di Indonesia, di Australia, pengaruh China sangat luar biasa hingga masuk ke sendi-sendi politik guna mengamankan kepentingan negeri Tirai Bambu tersebut di Asia Pasifik. 

 

Kondisi ini tentu membuat Amerika Serikat khawatir dan kebakaran jenggot melihat sepak terjang China di luar negeri mereka. Kekhawatiran itu memuncak saat negera Paman Sam itu tahu, ternyata Pemerintah China terlibat hingga jauh ke politik dengan memberikan sumbangan uang kepada politisi di Australia. 

 

Duta besar AS di Canberra, John Berry, dalam wawancara dengan koran The Australian, mengatakan uang dari China mengalir ke politik Australia guna mengamankan serta mendukung kepentingan China.

 

Baca Juga: Rakyat Vietnam Berang Lihat Arogansi China di Laut China Selatan

 

''Kami terkejut, terus terang, dengan keterlibatan pemerintah Cina dalam politik Australia," jelasnya seperti dilansir dari BBC Indonesia, Rabu, 14 September 2016. 

 

Amerika Serikat sangat beralasan dengan sepak terjang China yang memberikan biaya politik. Pasalnya, Australia tidak memiliki hukum yang melarang sumbangan politik dari warga asing, seperti diterapkan di negeri mereka. 

 

"Kami tidak bisa memahami kasus ketika sumbangan asing dari pemerintah mana pun, baik teman atau musuh, dipertimbangkan sebagai sah dalam demokrasi," kata Berry.

 

Seorang politisi Australia dari kubu oposisi mengundurkan diri dari posisinya di parlemen pekan lalu setelah menerima uang dari sebuah perusahaan China.

 

Klik Juga: Sudah Curi Ikan Indonesia, Pemerintah China Malah Protes

 

Senator Sam Dastyari dari Partai Buruh mundur setelah meminta perusahaan Cina, Top Education Institute, membayar biaya perjalanan sebesar 1.670 Dolar Australia atau sekitar Rp 16 juta.

 

Walau tidak melanggar hukum, ia mengaku telah meminta perusahaan tersebut membayar pengeluaran pribadinya adalah sebuah kesalahan.

 

Dastyari merupakan politisi yang pernah mengatakan, 'Laut China Selatan adalah urusan dalam negeri China', dianggap sebagai keberpihakan kepada posisi Beijing atas kawasan masih menjadi sengketa antar beberapa negara itu.

 

Mundurnya Sam Dastyari mengungkap masalah lebih besar dengan perkiraan, Top Education Institute telah menyalurkan sekitar 320.000 Dolar Australia atau Rp 3,1 miliar ke beberapa politikus Australia, baik dari Partai Buruh maupun Partai Liberal, yang saat ini memerintah.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline