Menjaga Jejak Raksasa Sumatra: Gajah Riau Bertahan di Hutan Sempit, Berakhir di Pusat Latihan

gajah-di-plg-minas.jpg
Gajah Sumatra di PLG Minas. (DEFRI CANDRA/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, SIAK - Di tengah menyusutnya hutan dan meningkatnya konflik satwa dengan manusia, gajah Sumatra di Provinsi Riau masih bertahan. Langkahnya besar, namun suaranya nyaris tak terdengar. 

Gajah-gajah Sumatra terus bergerak, menyusuri hutan yang kian menyempit, mencari ruang aman untuk hidup. 

Di balik tubuh raksasa itu, tersimpan cerita tentang kehilangan habitat, konflik dengan manusia, sekaligus harapan yang masih dijaga.

Perlahan, mereka berjuang hidup di antara bentang alam yang terus tergerus. Sementara manusia mencoba mencari titik temu antara pembangunan dan pelestarian.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, mengungkapkan bahwa saat ini populasi gajah Sumatra di Riau diperkirakan berjumlah sekitar 216 ekor, yang tersebar di delapan kantong populasi, mulai dari perbatasan Sumatra Utara hingga Jambi.

"Saat ini ada delapan kantong populasi gajah di Riau. Populasinya sekitar 216 ekor, namun jumlah ini sudah mulai menurun akibat perburuan dan konflik dengan manusia," ujar Supartono, Minggu, 14 Desember 2025.

Penurunan populasi tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Perambahan hutan, alih fungsi lahan, dan konflik berkepanjangan membuat ruang hidup gajah semakin sempit. Meski demikian, BBKSDA Riau masih melihat secercah harapan.

"Populasi gajah saat ini masih cukup stabil. Dari hasil kajian lapangan, kami masih menemukan banyak anakan, terutama di kantong Tesso. Bahkan masih ada anak gajah yang lahir alami di alam," jelasnya.

Sebagai langkah strategis pelestarian, BBKSDA Riau memprioritaskan empat kantong populasi untuk dihubungkan melalui koridor gajah, mulai dari Gajah Sumatra Area (GSA) menuju Suaka Margasatwa Balai Raja, serta koridor Tesso Utara dan Tesso Tenggara.

"Upaya utama kami adalah mempertahankan habitat. Empat kantong akan kami hubungkan agar gajah bisa bermigrasi dengan aman,"  tambah Supartono.

Upaya penanganan konflik gajah-manusia juga dilakukan melalui Pusat Latihan Gajah (PLG). Awalnya, PLG didirikan untuk menampung gajah-gajah konflik yang ditangkap dari pemukiman warga.

"Gajah yang berkonflik dengan manusia kami bawa ke PLG untuk dilatih. Seiring waktu, mereka justru kami libatkan dalam patroli dan penanganan konflik,"  kata Supartono.


Saat ini, terdapat 23 ekor gajah yang berada di PLG Sebanga, Minas, dan Buluh Cina, terdiri dari 12 jantan, 11 betina, serta 3 anakan. 

Setiap PLG memiliki spesialisasi berbeda, mulai dari patroli kawasan hingga penanganan konflik lintas wilayah, termasuk wilayah perbatasan.

Di PLG Minas, gajah-gajah hidup berdampingan dengan para mahout (pawang) yang oleh warga setempat kerap disebut “marmut”. 

Setiap hari, gajah dilatih, dirawat, dan dimandikan di sungai yang berada di kawasan PLG, bahkan hingga dua sampai tiga kali sehari.

Usia gajah di PLG Minas beragam, mulai dari 5 tahun hingga lebih dari 40 tahun. Selain dirawat, mereka juga dilatih untuk berkomunikasi dengan manusia.

Gajah-gajah tersebut tampak sangat terlatih. Mereka dapat duduk, berbaring, bahkan menyemburkan air dengan belalai saat mandi.

"Kami bisa memahami keinginan gajah, dan gajah juga bisa merasakan perasaan orang yang merawatnya,"  ujar salah seorang mahout PLG Minas.

Gajah dikenal sebagai satwa cerdas. Di PLG Minas, mereka memiliki makanan favorit seperti semangka dan nanas, bahkan mampu mengenali jika makanan tersebut mengandung zat berbahaya.

Keunikan lain terlihat saat mereka makan rumput. Gajah jantan biasanya akan memukulkan rumput ke gadingnya atau menginjaknya terlebih dahulu agar tanah terlepas sebelum dimakan. Sementara gajah betina akan memukulkan rumput ke kakinya untuk membersihkan tanah.

Setiap tiga bulan sekali, gajah-gajah di PLG Minas juga mendapatkan perawatan khusus untuk menjaga kesehatannya.

Supartono menegaskan bahwa konflik gajah dengan manusia sejatinya bukan karena sifat agresif satwa tersebut.

"Gajah sebenarnya tidak menyerang manusia. Mereka masuk ke pemukiman karena habitatnya terancam atau tergusur akibat perambahan hutan,"  tegasnya.

Jejak Panjang PLG Minas

PLG Riau memiliki sejarah panjang. Pertama kali didirikan di Sebanga-Duri pada 1988, namun mengalami berbagai tantangan, termasuk pembakaran dan konflik lahan. 

Setelah berpindah-pindah lokasi, sejak 2001 PLG akhirnya menetap di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim, Kecamatan Minas, hingga saat ini.

Meski aktivitas pelatihan terus berjalan, tekanan alih fungsi lahan menjadi kebun sawit membuat area penggembalaan gajah semakin menyempit.

Dengan jarak hanya 60 kilometer dari Kota Pekanbaru, PLG Minas dinilai sangat potensial dikembangkan sebagai wisata edukasi berbasis alam.

"Kami berharap pemerintah daerah dapat bekerja sama untuk menjadikan PLG Minas sebagai objek wisata edukasi, sekaligus pusat konservasi gajah Sumatra," pungkas Supartono.