Sempat Jual Gorengan di Kampus, Kini Desrida Rintis Merek Tas Sendiri

DERSIS.jpg
(muthi)

Kamu tidak akan pernah tau, jika kamu tidak pernah mencoba~

RIAUONLINE, PEKANBARU - Perempuan berkulit sawo matang berwajah manis itu bernama Desrida Wati. Dengan mata berbinar, perempuan itu bercerita tentang masa kecilnya yang ia habiskan untuk membantu kedua orang tuanya berjualan gorengan.

Ayahnya bekerja mengurusi kebun milik keluarga, sedangkan ibunya hanya seorang Ibu Rumah Tangga (IRT).

Ides, begitu perempuan itu biasa disapa. Ia mengaku mulai berjualan sejak duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar (SD). Tuntutan ekonomi dan besarnya impian membuat Ides bersemangat untuk berjualan tanpa rasa malu. Anak ketiga dari enam bersaudara ini memiliki semangat yang besar.

Saat kuliahpun tidak membuat perempuan ini berhenti berjualan. Setiap hari, ada atau tidak adanya jadwal kelas, Ides akan tetap datang ke kampus untuk menjajakan gorengannya ke kelas kelas.

Biasanya, Ides membawa gorengan ke kampus sebanyak 100 gorengan. Ia menentengnya di tangan kanan dan kirinya sembari menawarkan gorengan ke siapa saja yang ia temui di koridor kampus.

“Ditawarin keteman sekelas, ke dosen-dosen juga,” kenangnya.

Ides menargetkan, gorengan yang ia bawa harus selalu habis. Jika di fakultasnya tidak habis, maka perempuan tangguh itu menjajakan gorengan tersebut ke fakultas lainnya. Selepas menyelesaikan studinya di UIN Suska Riau sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi (S.Ikom) pada 2018 lalu, Ides mulai bekerja di rumah makan milik keluarganya sebagai kasir.

Jiwa bisnisnya tentu saja masih ada. Pada 1 Desember 2018, Ides membangun Desrida Handmade. Desrida Handmade sendiri merupakan brand yang ia miliki sendiri dengan menjual tas-tas dari hasil kerajinan tangannya sendiri.

“Jualan tas dari talikur dan rajut. Motifnya berbagai macam,” katanya sembari tersenyum ramah. Ides menjelaskan, bisnis Desrida Handmadenya ini masih dalam tahap merintis juga dengan sistem pembelian Pre Order (PO).

“Jadi yang minat, PO dulu, baru dibikinin,” jelasnya.

Dalam membangun Desrida Handmade sendiri, tentu saja ada suka duka yang dirasakan perempuan yang bercita-cita ingin melanjutkan Strata Dua (S2) itu. Sukanya saat hasil bikinan dipesan pembeli, lalu dipakai pembeli, Ides merasa sangat bahagia.

“Respon pembeli online maupun offline juga positif,” terangnya.

Untuk duka, Ides bercerita saat dirinya kesulitan mencari tali dan perlengkapan rajut, tapi ternyata udah habis dipasaran. Yang paling membuat perempuan itu sedih saat pesanan sudah jadi, tapi pembeli yang sudah order membatalkan orderan secara sepihak.

“Sedih banget rasanya.”

Untuk omzet, Ides mengaku tidak terlalu berharap besar dimasa pandemi Covid-19 ini, makanya Ides memiliki bisnis lain yakni menjual aquarium secaran online shop di @komandan_aquariu dan juga menjual perhiasan emas beserta perak.

Sebelum pandemi, Ides biasanya bisa mengkantongi Rp 500 ribu hingga Rp 1.500 ribu perbulan. Kedepannya, di 2021, Ides berharap perekonomian dunia membaik dan pandemi berakhir. Ia juga berharap agar bisnis-bisnis yang dijalankannya berjalan lancar.

“Pengen ngefokusin Desrida Handmade di tahun 2021. Targetnya sih bisa memasarkan Desrida Handmade hingga keluar negeri,” pungkasnya.