Anak Riau Ini Taklukkan Belanda hingga S3 di Australia Lewat Beasiswa

Christian-Hutabarat2.jpg
(Christian Hutabarat)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Christian Hutabarat, merupakan penerima beasiswa S2 LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) di Erasmus University, Rotterdam, Belanda. Christian merupakan putra daerah Riau.

“Saya lahir dan besar di Riau,” ungkapnya.

Ia mengambil program master jurusan Commercial and Company Law. Sebelumnya ia telah menyelesaiakan kuliah S1 di Universitas Indonesia (UI) jurusan Hukum.

Untuk bisa menempuh pendidikan di universitas ternama di Indinesia dan luar negeri ia mengaku sudah melewati berbagai perjuangan. Ia sempat gagal beberapa kali dalam proses seleksi masuk UI.

 

Namun, kegagalan tidak mematahkan semangatnya. Ia berusaha mencari berbagai jalur hingga diterima melalui jalur kelas internasional UI.

“Saya benar-benar mempersiapkan diri seperti mengikuti bimbel (bimbingan belajar) agar bisa masuk UI karena saya yakin kemungkinan itu pasti ada,” ucapnya.

Bersekolah di luar negeri adalah impian Christian. Baginya semangat adalah hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan.

“Pokoknya harus semangat dulu lalu tetapkan tujuan,” katanya.

Saat menjalani proses perjuangan ia juga menegaskan untuk memiliki karakter gigih dalam berusaha. Ketika menghadapi sebuah kegagalan dalam berusaha tidak lantas berhenti dan terpuruk. Saat gagal Christian menyarankan untuk tetap berusaha mencari alternatif lain mencapai tujuan.

Mencapai tujuan ia ibaratkan seperti menaiki anak tangga.

“Ketika gagal di satu anak tangga bukan berarti berhenti, tetapi harus tetap mencari tangga lain untuk bisa sampai ke atas,” ujarnya.

Begitu pula dengan mencari beasiswa. Ia sadar IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang ia dapatkan tidak setinggi mahasiswa lainnya yang juga berburu beasiswa. Sehingga ia mempersiapkan diri melalui jalur nonakademik. Prestasi dari segi nonakademik ia coba masksimalkan agar menjadi nilai tambah softskill (kemampuan) yang ia miliki.

Ia memaksimalkan kompetensi diri melalui aktif organisasi, mencari pengalaman kepanitian dan beberapa pelatihan softskill(kemampuan).

“Saya pernah menjadi ketua Ikatan Makasiswa Riau Universitas Indonesia dan aktif di forum-forum lainnya,” ujarnya.

Baginya aktif di organisasi dapat dijadikan sebagai uji mental untuk mampu bersaing. Saat itu ia berpikir harus mampu menaklukkan organisasi tingkat nasional agar dapat menjadi pertimbangan dalam mengikuti seleksi beasiswa S2.

Menurutnya kemampuan akademis saja tidak cukup untuk mencuri perhatian tim seleksi beasiswa. Sehingga ia mencoba berusaha aktif dalam berbagai kegiatan selama menjadi mahasiswa S1 di UI.

“IPK saya tidak cumlaude kok, tetapi dengan pengalaman itu menjadi suatu pertimbangan sehingga bisa diterima beasiswa,” ungkapnya.

Mendapatkan beasiswa sesuai keinginan harus menuntut diri untuk rajin mencari informasi. Sebab saat ini sudah banyak beasiswa yang tersedia.

Ia mengungkapkan bahwa penyedia beasiswa bukan hanya ada dari pihak Indonesia saja tetapi di negara tertentu juga ada beasiswa-beasiswa khusus yang bisa didapatkan oleh orang Indonesia.

“Informasi itu ada, tergantung kitanya seberapa giat kita mencari dan kuat berusaha,” katanya.

Proses mencari informasi yang dilakukan Christian melalui senior yang sudah berpengalaman berhasil dan gagal mendapatkan beasiswa.

“Perlu belajar dengan yang gagal agar mampu mengidentifikasi sebab kegagalannya,” ungkapnya.

Ketika menjadi mahasiswa di Erasmus University ia tetap ingin aktif dalam organisasi. Sehingga ia sempat menjabat sebagai Presdium PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Belanda dan ketua PPI Rotterdam.

Awal tinggal di Belanda Christian kesulitan untuk mencari tempat tinggal. Pasalnya, durasi pengumuman hingga keberangkatan hanya 2 bulan. Ditambah lagi tahun 2016 dan 2017 menjadi tahun penerimaan mahasiswa dengan jumlah terbanyak di Rotterdam.

“Jadi pada tahun itu mahasiswa internasional benar-benar kesulitan mencari tempat tinggal,”

Dari kejadian tersebut ia belajar untuk menyesuaikan kondisi baru dan berani mengambil tantangan untuk meningkatkan kualitas diri.

“Tapi saya pikir semuanya ada harga ketika kita ingin mencapai sesuatu harus ada pengorbanan dan resiko yang kita ambil,” katanya.

Budaya belajar juga menjadi tantangan bagi Christian sebagai mahasiswa internasional. Di Erasmus University jadwal sudah tersusun rapi dan beban pun terasa lebih berat karena banyaknya tugas kuliah.

“Di sana daya tahan dan kegigihan saya sangat diuji,” ujarnya.

Selanjutnya ia juga merasakan tantangan manajemen waktu antara membagi waktu kuliah dengan organisasi. Sebab Christian ingin memberikan yang terbaik untuk kuliah yang ia jalankan dan tanggung jawab organisasi yang ia emban.

Christian mengaku, ia sangat merindukan makanan Indonesia dan keluarga selama satu tahun di Belanda.

Chistian memegang konsep untuk menjadi seorang yang mementingkan negera dan keluarga. Sehingga pengorbanan yang dilakukan selama ini ia dedikasikan untuk negara dan keluarga.

“Pengobanan yang saya lakukan selama ini untuk negara dan untuk melihgat keluarga saya tersenyum,” ucapnya.

Ketika ia mulai lelah dengan keadaan maka ia akan mengingat kembali alasannya melakukan berbagai proses dan pengorbanan serta tujuan awal. Ia mensiasati rasa letih dengan tetap menjaga komunikasi dengan keluarga untuk mendapatkan semangat.

“Dengan menelpon untuk mendengarkan suara dan rasa bangga mereka terhadap saya saja rasa lelah dan letih bisa hilang,” ucapnya.

Selama di Belanda ia terkesan dengan keramahannya. Adanya sejarah panjang antara Indonesia-Belanda membuat warga Belanda sangat menghargai warga Indonesia.

“Rasa hormat mereka terhadap orang Indonesia cukup tinggi,” ungkapnya.

 

Rencana kedepannya ia akan mulai melanjutkan studi S3 di Australia tahun 2021. Studi S3 ini ia dapatkan juga dengan jalur beasiswa.