Dolar Menanjak, Rupiah Terdesak: Ujian Berat bagi Ekonomi Nasional

Dahlan-Tampubolon8.jpg
Ekonom Senior Riau, Dahlan Tampubolon (Istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat. Pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026, mata uang Garuda resmi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional dan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Berdasarkan data pasar, rupiah pada pukul 09.11 WIB tercatat berada di level Rp18.015 per dolar AS atau melemah 0,42 persen. Angka tersebut menjadi rekor terlemah rupiah sepanjang sejarah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Sebelumnya, rupiah dibuka di level Rp17.960 per dolar AS dan terus mengalami tekanan setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,62 persen di posisi Rp17.940 per dolar AS.

Menanggapi kondisi tersebut, Ekonom Senior Riau, Dahlan Tampubolon menilai pelemahan rupiah bukan sekadar gejolak sesaat, melainkan akumulasi berbagai persoalan ekonomi global dan domestik yang selama ini belum terselesaikan secara tuntas.

Menurut Dahlan, salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah adalah derasnya arus modal keluar (capital outflow) akibat meningkatnya daya tarik instrumen investasi di Amerika Serikat.

"Imbal hasil obligasi Amerika Serikat saat ini sangat menarik bagi investor global. Akibatnya, banyak modal asing keluar dari Indonesia dan beralih ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman. Ketika permintaan dolar meningkat dan rupiah ditinggalkan, maka nilai tukar kita otomatis tertekan," ujarnya kepada Riau Online, Kamis 4 Juni 2026.

Selain faktor eksternal, Dahlan juga menyoroti kondisi neraca pembayaran Indonesia yang dinilai mulai mengalami tekanan.

Ketergantungan terhadap impor bahan baku industri masih tinggi, sementara surplus perdagangan yang selama ini menopang ekonomi mulai melemah akibat fluktuasi harga komoditas global.


"Kita terlalu lama bergantung pada keuntungan dari ekspor komoditas. Saat harga komoditas bergejolak dan impor tetap tinggi, tekanan terhadap neraca berjalan menjadi semakin besar," katanya.

Dahlan mengakui Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas rupiah, mulai dari intervensi pasar hingga kebijakan suku bunga. Namun menurutnya, kebijakan moneter saja tidak cukup apabila tidak diiringi disiplin fiskal dari pemerintah.

Ia mengingatkan pemerintah perlu lebih selektif dalam menentukan prioritas belanja negara, terutama di tengah tekanan ekonomi global yang semakin meningkat.

"Pemerintah harus fokus pada program yang benar-benar berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Efisiensi belanja dan penguatan sektor produktif menjadi lebih penting dibandingkan proyek-proyek yang tidak memberikan manfaat ekonomi signifikan," jelasnya.

Lebih lanjut, Dahlan mendorong pemerintah mempercepat implementasi transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan negara-negara mitra dagang. Menurutnya, langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS dalam transaksi internasional.

"Kita harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Semakin banyak transaksi yang menggunakan mata uang lokal, semakin kecil kerentanan ekonomi kita terhadap gejolak kurs global," katanya.

Bagi pelaku usaha, Dahlan mengingatkan pentingnya strategi mitigasi risiko, termasuk penggunaan instrumen lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi fluktuasi nilai tukar yang semakin tinggi.

Sementara bagi masyarakat, ia meminta agar tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Meski pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah barang impor dan menekan daya beli, masyarakat diharapkan tetap tenang serta bijak dalam mengelola pengeluaran.

"Memang akan ada tekanan terhadap harga-harga barang tertentu, tetapi masyarakat tidak perlu panik. Yang terpenting adalah tetap produktif, mengelola keuangan dengan baik, dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menimbulkan keresahan," ujarnya.

Dahlan menilai kondisi saat ini harus menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah untuk memperkuat struktur ekonomi nasional agar lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh gejolak eksternal.

"Rupiah di level Rp18.000 per dolar AS bukan kiamat ekonomi. Namun ini menjadi alarm bahwa fondasi ekonomi kita masih perlu diperkuat. Pemerintah harus berani melakukan pembenahan mendasar agar Indonesia tidak terus-menerus rentan terhadap guncangan global," pungkasnya.