Harga Kedelai Melonjak Imbas Dolar Menguat, Produsen Tahu Pekanbaru di Titik Kritis

Produsen-tahu-di-Pekanbaru-Nurkholis.jpg
Produsen tahu di Pekanbaru, Nurkholis (HERIANTO WIBOWO/RIAU ONLINE)

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kota Pekanbaru. Salah satu sektor yang terdampak langsung adalah industri tahu rumahan yang bergantung pada bahan baku kedelai impor.

Harga kedelai yang terus merangkak naik membuat biaya produksi melonjak tajam. Saat ini, harga kedelai telah mencapai sekitar Rp550 ribu per karung atau naik lebih dari 30 persen dibandingkan beberapa waktu lalu.

Seorang produsen tahu di Pekanbaru, Nurkholis, mengaku kondisi tersebut semakin membebani modal usaha yang harus dikeluarkannya setiap hari.

"Naiknya harga dolar sangat berdampak pada usaha kami, terutama untuk modal. Peningkatan modal sudah melambung tinggi," ujar Nurkholis, Kamis 5 Juni 2026.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku terjadi hampir setiap kali melakukan pembelian stok kedelai. Padahal, pembelian bahan baku dilakukan secara rutin setiap 10 hari sekali untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Meski menghadapi tekanan biaya yang semakin besar, Nurkholis mengaku masih berupaya mempertahankan usahanya yang telah digeluti selama puluhan tahun.

"Sementara ini masih bertahan, tidak ada jalan lain. Sudah puluhan tahun di bidang ini, jadi kami atasi dulu selagi masih bisa," katanya.


Yang menjadi dilema, produsen tahu belum berani menaikkan harga jual kepada konsumen. Saat ini harga tahu dari tingkat produsen masih bertahan di kisaran Rp65 ribu per kaleng.

Tak hanya itu, Nurkholis juga menolak mengurangi ukuran produk sebagai cara menekan biaya produksi. Menurutnya, langkah tersebut justru berpotensi mengurangi kepercayaan pelanggan yang selama ini menjadi penopang usahanya.

"Kalau ukurannya diperkecil juga bukan solusi. Tidak mungkin kita lakukan itu. Kalau kita perkecil sementara setiap hari harga naik, nanti habis juga. Jadi ukuran tetap, harga tetap, kita bertahan saja sekarang," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat margin keuntungan yang diperoleh semakin menipis. Bahkan, Nurkholis menyebut usaha yang dijalankannya kini hanya berada pada tahap bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.

"Keuntungan semakin tipis, ini sudah mendekati titik kritis. Tapi kami masih coba bertahan," ungkapnya.

Meski demikian, ia memastikan pasokan kedelai di pasaran masih relatif aman dan mudah diperoleh. Persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan kelangkaan bahan baku, melainkan kenaikan harga yang terus terjadi.

"Bahan baku mudah didapat, tapi setiap 10 hari saya beli selalu ada kenaikan harga. Harapan kami ya harga turun, supaya modal bahan baku juga turun," tuturnya.

Nurkholis berharap pemerintah dapat memberikan perhatian kepada pelaku usaha kecil yang terdampak pelemahan rupiah. Salah satunya melalui program subsidi atau bantuan khusus untuk industri pangan skala kecil.

Ia menilai kebijakan serupa pernah diterapkan pada masa pemerintahan sebelumnya dan cukup membantu menjaga keberlangsungan usaha tahu rakyat di tengah gejolak harga bahan baku.

"Kami berharap ada subsidi atau bantuan dari pemerintah seperti dulu. Karena usaha kecil seperti kami sangat merasakan dampak kenaikan harga kedelai akibat dolar yang terus naik," pungkasnya.