PSBB Rugikan Rakyat, Markarius : Lockdown Total Atau Hentikan PSBB

maseker-markarius.jpg
(istimewa)

RIAU ONLINE, PEKANBARU - Anggota Komisi I DPRD Riau, Markarius Anwar, menilai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah kebijakan yang setengah hati dan kebijakan yang banci.

 

"Efektif atau tidak efektifnya suatu kebijakan bisa dilihat dari aturan mainnya. Ini PSBB ini kebijakan separuh hati, toh masih ada kenaikan penyebaran, artinya secara sosial besar dampaknya, tapi dari sisi keberhasilan belum signifikan," kata Ketua Fraksi PKS DPRD Riau ini, Senin, 27 April 2020.

 

Apalagi melihat realisasi PSBB di Pekanbaru, menurut Markarius menjadi penyebab kenapa banyak daerah yang masih enggan melaksanakan PSBB. Karena, dampak sosial jauh lebih besar dari penekanan angka penyebaran.

 

"Jangan keputusan banci, dampak ekonomi terasa, manfaatnya untuk masyarakat kurang nendang, jangan tanggung-tanggung lah. Kalau mau tegas, ya lockdown saja," tegasnya.

 

Karena kalaupun begini terus, akan ada perpanjangan dan perpanjangan masa berlaku PSBB, dimana anggaran yang dihabiskan sama saja dengan anggaran lockdown total 14 hari.

 

"Lockdown saja, dua Minggu selesai semua. Tapi harus dipastikan kebutuhan pangan semua masyarakat tanpa dipilah lagi. Masalah anggaran bisa didiskusikan lagi," tambahnya.

 

Kalau pemerintah tidak sanggup membiayai lockdown, Markarius berharap agar kebijakan PSBB ini ditiadakan saja, biarkan masyarakat menjalankan aktivitas ekonominya.

 

Syaratnya, Pemerintah wajib memastikan masyarakat menjalankan protokoler kesehatan terutama pemakaian masker dan titik-titik pencucian tangan sehingga pencegahan dilakukan secara personal bukan regional.

 

"Saya sudah diskusi dengan kawan-kawan di IDI, 50 persen lebih bisa ditekan penukarannya kalau kita pakai masker. Sekarang lihatlah walaupun PSBB banyak juga yang tidak pakai masker," tuturnya.

 

Untuk itu, ketimbang pemberlakuan PSBB yang banyak mudharatnya ke masyarakat lebih baik pemerintah mempertegas masyarakat agar menggunakan masker di luar rumah.

 

"Patroli petugas mencari orang tak pakai masker, seminggu pertama sosialisasi, yang tak pakai masker kasih masker gratis. Minggu selanjutnya beri sanksi tegas kalau perlu bawa ke kantor polisi untuk pembinaan. Ini lebih baik daripada menghalangi orang berdagang di pasar, tapi virusnya tetap juga menyebar," tutupnya.