RIAU ONLINE, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera meluncurkan aplikasi anti-scam, selambatnya akhir 2026. Hal ini disampaikan Sekretaris Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Pasti) OJK, Hudiyanto.
Hudiyanto mengatakan, sejumlah negara telah mengimplementasikan aplikasi serupa.
"Tahun ini kita bikin anti-scam apps. Kita nyontoh banget Australia, Singapura, sama Hongkong," kata Hudiyanto, dikutip dari Liputan6.com, Jumat, 7 Agustus 2026.
Hudiyanto menjelaskan, teknis aplikasi tersebut bisa digunakan oleh masyarakat untuk mengecek riwayat transaksi keuangan atau pembelian secara digital. Dari situ bisa diketahui transaksi tersebut memiliki potensi penipuan atau tidak.
Hal ini dapat diketahui dari profil rekening tujuan yang nantinya akan terdeteksi apakah rekening tersebut pernah terkait kasus penipuan atau tidak.
"Ini nanti di belakangnya adalah semua data termasuk dari Komdigi. Ketika let's say mas mau beli racket-paddle, harga segini, transfer ke nomor rekening ini, masukin ke aplikasi ini dulu, mereka akan ada namanya signal exchange," ujarnya.
Saat ini, kata Hudiyanto, aplikasi itu masih dalam dibangun dan melalui koordinasi dengan kementerian/lembaga terkait. Sehingga ia menargetkan aplikasi bisa rampung dikembangkan sebelum akhir tahun.
"Kita sangat berharap bisa diselesaikan akhir tahun ini, itu tahap pertama dan tentunya akan berkembang terus karena kita ingin semakin melindungi masyarakat...akhir tahun ini moga-moga kita sudah bisa menyampaikan sesuatu yang bermanfaat buat masyarakat di Indonesia," jelas Hudiyanto.
Hudiyanto menyatakan, keberadaan aplikasi tersebut penting karena Indonesia termasuk negara darurat scam dengan jumlah laporan yang bisa mencapai lebih dari 1.000 per hari.
"Kalau sehari di Malaysia, di Singapura, Thailand, itu sekitar 100-200 per hari report mengenai scam. Indonesia berapa? 1.000-1.300. So, 4-5 kali kita kejadian scam di Indonesia. So, be careful, kita sekarang dalam darurat scam," ungkapnya.
Selain mengembangkan aplikasi, anggota Satgas PASTI juga mterus mendapat pelatihan. Salah satunya dari FBI Amerika Serikat.
"Jadi kita equip anggota Satgas PASTI kita bahwa bagaimana cara melakukan penelitian, penelaahan suatu scam dan fraud itu jadi semakin baik," pungkasnya.

